
CHINA dan India, dua negara kekuatan nuklir dunia dan bertetangga yang baru-baru ini terlibat sengketa perbatasan di wilayah dataran tinggi Himalaya ternyata memiliki persoalan berbeda terkait monyet.
China seperti diberitakan AFP (19/6), kekurangan jenis ordo hewan primata tersebut bagi penelitian yang diperlukan melawan pandemi Covid-19 yang bermula menyerang kota Wuhan, Provinsi Hubei dan kini sudah menewaskan 466.250 orang dan memapar 8,9 juta orang di 213 negara (sampai 21/6).
Perusahaan Yisheng Biopharma yang berkedudukan di timur laut kota Shenyang , China saat ini sedang berlomba-lomba dengan negara-negara lain sejak Januari lalu untuk menemukan vaksin Covid-19. Untuk itu diperlukan hewan seperti tikus, kelinci dan monyet dalam rangkaian penelitian lab, sebelum dilakukan uji klinis pada manusia.
Dampaknya, harga seekor monyet jenis rhesus dan cynomolgus yang dikembang biakkan di wilayah selatan China pun melonjak, dari kisaran antara 10.000 dan 20.000 Yuan per ekor (Rp 20 – Rp40 juta), sampai 100.000 yuan (Rp200 juta) karena tingginya permintaan.
Target ambisius Yisheng adalah memproduksi vaksin Covid-19 September nanti dengan melakukan rangkaian uji klinis sebelumnya termasuk pada tikus dan kelinci (sudah berhasil), lalu akan diuji coba kan pada monyet dan terakhir uji klinis pada manusia.
Tidak tanggung-tanggung, perusahaan Yisheng kabarnya juga sudah siap mengelontorkan dana sampai 180 juta dollar AS (sekitar Rp2,5 triliun) lagi untuk sampai memproduksi vaksin Covid-19 yang dinanti-nanti masyarakat dunia.
Sejauh ini AS juga mengklaim akan mampu memproduksi vaksin Covid-19 awal 2021, begitu pula Rusia yang gencar-gencarnya melakukan uji klinis, sementara Belanda, Itali, Jerman dan Perancis menggalang kemitraan untuk melakukan penelitian dan kemudian memproduksinya.
Populasi monyet agaknya surplus di India, seteru bebuyutan China yang baru-baru ini terlibat insiden perbatasan sehingga malah dianggap menjadi hama karena tidak jarang menimbulkan sejumlah permasalahan.
Sebanyak 20 tentara India termasuk seorang kolonel tewas, sebaliknya di pihak China 40-an tentaranya tewas dalam bentrokan fisik menggunakan batu dan tongkat besi di garis pengawasan aktual (Line of Actual Control-LAC) di lembah Galwan, wilayah sengketa di kawasan Himalaya (15/6).
Masih beruntung, jumlah korban relatif kecil karena berdasarkan kesepakatan yang mereka buat sebelumnya, patroli kedua belah pihak sepanjang LAC dilarang membawa senjata api.
Monyet “Jarah” ATM
The Daily Mail (11/5) melaporkan, anjungan mandiri di dekat kawasan istana kepresidenan di ibukota, New Delhi disatroni oleh seekor monyet yang merusaknya dan dari tayangan CCTV seolah-olah akan “menguras” isinya, kemudian berlalu meninggalkan ATM tersebut.
Sekawanan monyet mengambil empat sampel darah pasien Covid-19 di lab kampus kedokteran di dekat kota Lucknow, negara bagian Uttar Pradesh akhir Mei lalu sehingga dikhawatirkan menularkan Covid-19 terhadap orang-orang yang menyentuhnya.
Sedangkan Kantor Berita IANS (18/6) melaporkan, di Mirazpur, juga di negara bagian Uttar Pradesh, seekor kera yang kecanduan miras membunuh satu orang dan melukai 250 lainnya setelah miras yang diminumnya habis.
Sebelumnya, oleh sang pemilik yakni seorang penganut sekte agama tertentu acap memberikan miras pada monyet yang dinamai Kalua itu sehingga ketagihan, namun setelah majikannnya meninggal, ia tidak lagi mendapatkannya.
Ketimbang terlibat perang yang bakal menguras dana, korban jiwa dan materi antara kedua raksasa militer yang memiliki senjata pemusnah massal itu, lebih baik mereka melancarkan “diplomasi monyet”.
India mungkin bisa mengirimkan surplus monyetnya untuk memperlancar penelitian vaksin Covid-19 di China, sebaliknya China bisa membantu India menangani penyakit akibat virus tersebut jika nantinya vaksin sudah diproduksi. (Berbagai sumber/NS).




