GATUTKACA KENDAGA

Burisrawa ketahuan Gatutkaca, menyamar mirip dirinya dalam rangka mengincar Wara Sembadra.

BAGI dunia perwayangan, berhasil mempersunting putri titisan Dewi Widowati merupakan sebuah keberuntungan besar. Itu kombinasi kewibawaan, kehormatan plus kanikmatan seksual. Di samping karier terus melejit, sang suami bakal betah di rumah, ibarat kata tak sempat pakai celana! Itu karena titisan Widowati selalu dibecking Betara Wisnu dari kahyangan Ngutarasegara tersebut. Maklum, antara Betara Wisnu – Dewi Widowati memang satu paketan, seperti mur ketemu baud, mirip platina dan kondensor untuk mobil lawas.

Dalam pakem Mahabarata Dewi Widowati menitis pada Wara Sembadra, istri Harjuna. Tapi anehnya, meski Sembadra sudah dikawin priyayi Madukara, Burisrawa dari kesatriyan Cindekembang masih ngebet banget berharap akan jandanya.  Maka demi mendengar kabar bahwa Sembadra dituding jadi panpel wisudan Gatutkaca sebagai raja Pringgodani, Burisrawa ingin mencuri Wara Sembadra. Bahkan kakak iparnya,  Prabu Duryudana, diminta memback up penyakit senior (senang istri orang)-nya yang sedang kambuh. Paling tidak masuk agenda rapat besar negara Ngastina.

“Ini sidang selapanan Istana lho, kok malah mbahas masalah wedokan. Keterlaluan..,” Patih Sengkuni gedeg-gedeg.

“Tegalparang dekat Pasar Minggu, bini orang kok mau diganggu! Nggak punya malu, huh” Pandita Durna melu ikut pula menyindir.

Karena tak enak pada sang istri, Dewi Banowati, Prabu Duryudana bersama Patih Sengkuni dan Pandita Durna kemudian rundingan lewat WA saja, cari akal bagaimana bisa mempertemukan Burisrawa – Sembadra. Prabu Baladewa dan Adipati Karno sengaja tak dikasih tahu, sebab dua wayang ini pastilah disenting opinion selalu. Maklumlah, kan keduanya merupakan keluarga dekat Pandawa. Oleh karena itu masuknya Baladewa-Adipati Karno dalam keluarga Ngastina, tak ubahnya kayu jati ketlusuban ruyung (musuh dalam selimut).

Raden Burisrawa kemudian di make up mirip Gatutkaca, kostum dicarikan bekas baju-baju almarhum Rusman dari WO Sriwedari, Solo. Sayang ukurannya tidak pas, sehingga nampak methet-methet macam brongsongan gori. Tapi ya nggak apalah, yang penting kan mirip kesatria Pringgodani. Walhasil setelah dikomat-kamit mantera jopa-japu abang biru buntut asu oleh Resi Durna, Gatutkaca abal-abal tersebu berangkat ke Pringgodani naik bis. Lho kenapa tidak mengudara berselimut mega?

“Bilang saja, cuaca buruk landasan tidak terlihat, begitu ya….,” pesan Durna kepada Burisrawa sebelum berangkat.

“Siap Boss…!” jawab Burisrawa.

Pringgodani memang sedang menggelar hajatan besar, hendak melantik Gatutkaca sebagai raja definitip. Pasca insiden Brajadenta – Brajamusti yang berhasil ditumpas dan kemudian merasuk dalam tubuh Gatutkaca,  minggu ini putra Jodipati dikukuhkan sebagai raja Pringgodani. Ketua panitia ditunjuk Sembadra, adapun Gatutkaca sendiri tengah menyeleksi para calon nindya mantri serta patih Pringgodani. Di meja Gatutkaca telah menumpuk 100 map lamaran atau CV (Curikulum Vitae). Ada yang dikirim lewat pos, ada juga yang dititipkan lewat paman Harjuna ya bapak mertua.

“Wah, ini Tumenggung Kartodenda kok ikut-ikutan nglamar, jejak rekamnya apa? Orang tukang kawin dan ganggu bini orang aja…..” ujar Gatutkaca tak nyaman duluan.

“Jika ada pos-nya gitu, dia paling cocok jadi Mentri Muda Urusan Janda.” ujar Wara Sembadra saat memberi masukan.

Gatutkaca pusing duluan menyaksikan ulah buta-buta Pringgodani. Betapa tidak, gara-gara kepengin jadi nindya mantri sudah cakar-cakaran dengan teman separtai. Geli juga, soalnya ada yang sudah kadung mundur dari DPR ternyata tak diajak masuk kabinet, sehingga mirip dongeng Krama Dangsa: ora brekat ora breket!  Paling lucu lagi, ketika Bethara Guru didapuk jadi Ketua MPR, Betari Durga istrinya pilih ke Singgapur ketimbang besuk harus mendampingi Bethara Guru, menyaksikan Gatutkaca diwisudha menjadi ratu Pringgodani.

Para calon nindya mantri sudah dipanggil ke istana Pringgodani, untuk wawancara dan tanda tangan kontrak politik. Esuk harinya dilanjutkan test kesehatan di RSCM. Selain diperiksa jasmani dan rokhani, biji mata juga ditest lebih teliti: langsung ijo apa tidak ketika melihat tumpukan duwit. Sebab dikhawatirkan, menjadi nindya mantri kerjaannya malah menjuali BUMN melulu sekaligus tebang hutan. Tapi ketika mau diperiksa KPK, mencoba berkelit dan pura-pura tak tahu.

“Biar budeg, saya ini asal ada rembug proyek, pasti dengar,” ujar calon nindya mantri Tumenggung Alap-alap Arto, pating pecothot mirip politisi kadrun.

“Wah, itu penyakite Bolot Net-TV. Udah, udah……, nggak lulus ente….!” ujar bagian tim medis. Map proposal segera dipulangkan.

Hari itu pemeriksaan keamanan di Pringgodani semakin diperketat. Sebab para tokoh Pandawa, Dwarawati, Mandura, termasuk resi Mayangkara dari Kendalisada; kompak menghadiri wisudan Gatutkaca sebagai raja Pringgodani. Bahkan Betara Guru yang bertugas melantik Prabu Gatutkaca, sejak dari kemari sudah ngineo di  hotel bintang tujuh Balsem Serathon. Agak panas memang, tapi Sanghyang Manikmaya gak masalah, karena dia seorang dewa! Cuma ya itu tadi, selama di Pringgodani Bethara Guru hanya mengenakan kaos sport cap kidang. Makuta atau kupluknya juga dilepas, sehingga  kelihatan  gundul dan jenggotan mirip kadrun ahli tapsir lagu “balonku ada lima”.

Menjelang pukul 10.00, pelantikan hendak dimulai. Nata Pringgodani telah duduk penuh khidmad di dampar kencana. Bethara Guru yang duduk di sebelahnya, nampak pakai kumis rakitan karena dipertebal pakai spidol Snowman, mau mengimbangi Gatutkaca. Tapi acara sumpah jabatan belum juga dimulai, heboh dan gemparlah para tamu. Soalnya mendadak muncul Gatutkaca dua lagi, wujudnya sama presis. Sama postur tubuhnya, sama warna kulitnya, mereka punya kumis juga sama tebalnya. Nggak tahu juga isi kantongnya……

“Ulun mboya ngerti (saya nggak tahu), mana Gatutkaca yang asli. Maka untuk mengetes, kalian bergantian masuk kendaga (gentong) ini. Yang bisa masuk itulah yang asli.” ujar  Betara Guru yang agak bingung bagaimana harus memutuskan.

“Wah, kok meniru ketoprak mataram lakon Bremana-Bremani ta ini. Nggak mutu blas….,” protes Gatutkaca yang baru saja tiba.

Gatutkaca kembar segera digiring ke alun-alun, lalu mencoba masuk gentong bekas cendol dawet ireng Purworejo. Dua Gatutkaca berhasil masuk dengan gampang, sebaliknya satu Gatutkaca lagi hanya mampu masuk kepalanya doang, jadi mirip orang pakai helm mau naik sepeda motor.

Prabu Kresna yang waspada tingal (tahu gelagat), segera menyambar gentong dan dibantingnya, pyarrrr. Gentong ambyar seketika,  lalu munculah satriya Cindhekembang Raden Burisrawa, bersama raja Tawang Gantungan Prabu Godhayitma ya arwah Prabu Dasamuka. Keduanya belingsatan bingung, mencari celah untuk segera kabur.

“Sencaki, Anoman, jangan ngantuk macam anggota DPR!” Werkudara kasih perintah kepada satriya Garbaruci dan pendita dari Kendhalisada.

“Beres boss!” jawab keduanya serentak.

Sencaki segera membekuk Burisrawa, sementara Anoman menyerang “pelanggan” lawas saat perang gede di Ngalengkadiraja. Burisrawa – Dasamuka gagal nggonjak (menggoda) titisan Widowati, malah keduanya lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Burisrawa kembali ke kesatrian dengan tubuh babak belur, sementara arwah Dasamuka kembali sembunyi di gunung Sumawana dekat Ambarawa. Adapun Gatutkaca yang gagal masuk gentong, berarti asli made in Pringgodani, segera diwisudha Bethara Guru dengan nama baru: Ingkang Wicaksana Sinuwun Prabu Gatutkaca Satriya Panatabata Ngabehi Kiduling Pasar Njongke.      (Ki Guna Watoncarito).

           

 

Advertisement