
KEVAKUMAN dukungan tentara asing di Afghanistan pasca penarikan pasukan Amerika Serikat dan NATO, Agustus nanti diharapkan bisa diisi dengan rencana kehadiran China dan Pakistan.
Menlu China Wang Yi seperti dilaporkan South China Morning Post New (8/7) lalu menyatakan kesediaan negaranya bersama Pakistan untuk melanjutkan kerjasama dengan semua pihak di Afghanistan guna mencari solusi politik melalui dialog serta rekonsiliasi etnis bagi perdamaian jangka panjang.
“Kami perlu mempertahankan perdamaian regional bersama. Masalah Afghanistan adalah tantangan praktis yang dihadapi China dan Pakistan,” ujar Wang.
Situasi di Afghanistan sendiri makin mencemaskan karena pihak Taliban segera memanfaatkan pengunduran diri pasukan AS dan NATO untuk mengambil kembali sejumlah wilayah yanga perna didudukinya.
Dalam kampanye lanjutan sejak awal penarikan pasukan Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mei lalu dilaporkan telah merebut distrik kunci di Provinsi Kandahar, Afghanistan, Minggu (4/7).
Satuan AS dan NATO , menurut AFP, dua hari sebelumnya (2/7) telah mengosongkan Pangkalan Udara Bagram, utara ibukota, Kabul, semula basis kekuatan pasukan sekutu terhadap posisi-posisi Taliban dan Al-Qaeda selama dua dekade.
Gubernur distrik Panjwai Hasti Mohammad mengatakan, pasukan Afghanistan terpaksa mengundurkan diri dari wilayah itu setelah bentrok dengan milisi Taliban sepanjang malam.
Pertempuran dilaporkan pula berkecamuk di sejumlah provinsi Afghanistan dalam beberapa pekan terakhir dan Taliban mengklaim telah merebut lebih 100 dari hampir 400 distrik di negara itu.
Pasukan Pemerintah Diragukan
Setelah Taliban merebut puluhan distrik dalam dua bulan terakhir ini banyak pihak meragukan kemampuan tentara pemerintah mempertahankan Kabul tanpa dukungan pasukan asing.
Ratusan tentara pemerintah juga dilaporkan menyeberang perbatasan Kyrgiztan karena terdesak oleh milisi Taliban sehingga berita ini juga bisa meruntuhkan satuan-satuan tentara pemerintah lainnya.
Taliban memerintah dan menguasai sebagian wilayah Afghanistan sejak 1996 hingga 2001, berakhir dengan pemboman yang dilancarkan AS pasca tragedi 11 September di (WTC) New York dan Washington.
Uni Soviet juga pernah bercokol di Afghanistan dengan menempatkan puluhan ribun pasukannya untuk mendukung pemerintah Marxisme-Leninisme rezim Babrak Karmal antara 1979 dan 1989 melawan kelompok Mujahiddin dukungan AS dan Pakistan.
Paling tidak sekitar 2.500 tentara AS dan sekitar 15.000 pasukan Soviet tewas dalam kampanye mereka di Afghanistan, belum termasuk milisi Taliban, Mujahidin dan tentara pemerintah serta warga sipil.
Praktis Afghanistan terperangkap dalam perang berkepanjangan sejak 1979. Pertanyaannya, jika China dan Pakistan masuk nanti menggantikan AS, apakah perdamaian yang didambakan rakyatnya bisa diwujudkan ?




