
| PASUKAN Pembebasan Rakyat China (PLA) menyambut” pelantikan Presiden baru Taiwan William Lai Ching-te dengan latihan militer pengepungan total wilayah yang dianggap provinsinya tersebut, Kamis dan Jumat 23 – 24 Mei.
Skenario latgab dengan mengerahkan keempat matra (AD, AL, AU dan satuan roket) digelar oleh Komando Timur PLA China daratan di sembilan wilayah berupa operasi gabungan, penembakan dari laut dan udara serta simulasi pendaratan pasukan amfibi dan perebutan wilayah. “Latihan terfokus pada kendali gabungan operasi laut dan udara serta penyerbuan dan perebutan sasaran termasuk penembakan sasaran, “ tutur Jubir Komando Timur PLA Li . Sejumlah analis militer menilai, latgab keempat matra PLA merupakan manuver untuk merebut kota-kota dan obyek-obyek militer di Taiwan yang menjadi jantung dan otak (pusat komando) di wilayah itu. Li juga menyebut latgab tersebut merupakan hukuman berat terhadap aksi separatis yang dilakukan rezim di Taiwan, sekaligus juga peringatan keras terhadap setiap provokasi dan intervensi asing. Menlu China Wang Yi (21/5) lalu mengomentari pidato Presiden Lai Ching-te sebagai tindakan buruk yang menghianati kesatuan China dan leluhurnya dan menyatakan, tidak ada yang bisa mencegah reunifikasi Taiwan ke China dan aksi separatis Taiwan merupakan aib sejarah. Sebaliknya, Kemenhan Taiwan dalam pernyataan persnya (Kamis, 23/5) menyesalkan digelarnya latihan tersebut dan menilainya sebagai provokasi yang tidak masuk akal serta menyiapkan kekuatan militernya untuk mengantisipasi situasi. Kemenhan Taiwan dilaporkan telah menyiagakan kapal-kapal perangnya untuk berjaga-jaga mengantisipasi berbagai kemungkinan sekitar 160 Km dari garis pantai Taiwan. Reaksi keras Beijing diduga juga untuk merespons pidato Presiden Lai Ching-te saat pelantikannya, Senin (20/5) yang mengingatkan rezim China daratan itu untuk stop melancarkan intimidasi militer. “Taiwan adalah negara merdeka yang kedaulatannya berada di tangan rakyat, “ tuturnya. Dalam pernyataan teranyar China, Jumat (24/5) mengingatkan Taiwan tentang potensi bayaha perang terutama balasan dari pihaknya hingga reunifikasi kedua wilayah tercapai. Perimbangan kekuatan Global Firepower mencatat, kekuatan militer China dibandingkan Taiwan bagaikan bumi dan langit, namun walau jauh lebih kecil, Taiwan dipersenjatai dengan alutsista canggih terutama dari AS dan negara-negara Barat lainnya. PLA memiliki lebih dua juta personil, Taiwan hanya 169-ribu orang, sementara AD China didukung sekitar 5.400 tank tempur utama (MBT), sebagian besar modivikasi eks Soviet seperti T-62, T-72, sedangkan Taiwan mengoperasikan a.l 650 tank termasuk 178 unit MIA2 Abrams dan 200-an unit M-60 buatan AS. China memiliki sekitar 9.800 pucuk artileri dibandingkan Taiwan 2.000-an pucuk. |
Di laut, PLA juga jauh lebih kuat dengan mengoperasikan 600-an aneka jenis kapal perang termasuk kapal induk Liaoning dan Shandong, tiga pengangkut helikopter, 49 destroyer, 42 frigates, 72 korvet, 107 kapal cepat rudal dan 60-an kapal selam termasuk sembilan bertenaga nuklir.
| Sedangkan AL Taiwan mengoperasikan 200an kapal perang seperti empat destroyer, 22 frigates, tiga korvet dan 37 kapal patroli rudal dan 14 penyabar ranjau dan empat kapal selam. |
Matra udara China dengan 1.600 aneka pesawat jaug lebih unggul berasal dari modivikasi warisan eks-Soviet atau pengembangan baru dibandingkan Taiwan yang hanya memiliki 400-an aneka pesawat militer.
China tercatat memiliki 231 unit bomber strategis Xian-H6, 69 buah Xian JH-7, 241 unit penyergap Chengdu J-7, 50 unit interceptor Shenyang J-8, 300 unit pesawat tempur multi peran Shenyang-J-16, selain itu kekuatan udara China juga ada di matra darat dan laut.
Sementara matra udara Taiwan a.l. diperkuat oleh 62 unit pesawat Tiger F-5 yang sudah lawas dan 200-an berbagai seri Fighting Falcon F-16 (keduanya eks-AS), 129 unit pesawat tempur F-CK1 buatan local dan 54 unit Mirage 2000 eks-Perancis.
Dari segi anggaran militer, Global Firepower 2024 mencatat, China 227 miliar dollar AS (sekitar 3.362 triliun) dibandingkan Taiwan sekitar sepersebelasnya yakni 19,1 miliar dollar AS (sekitar Rp305 triliun).
Perang terbuka antara China dan Taiwan tentu menjadi bencana besar bagi umat manusia berupa kehilangan nyawa dan hancurnya prasarana dan prasarana umum karena bakal melibatkan Amerika Serikat dan konco-konconya di belakang Taiwan dan Rusia di belakang China. (AP/Reuters/ns)
.




