
KEBIJAKAN tangan besi di era globalisasi dan keterbukaan informasi kini harus lebih cermat dan terukur, jika tidak, selain memicu perlawanan rakyat, juga bisa menjadi bumerang, menyebabkan kerugian lainnya.
Hal itu tercermin dari pencabutan kebijakan lockdown atau karantina terbatas yang diberlakukan oleh pemerintah China di 17 kota besar dalam dua pekan terakhir sebelumnya seiring terjadinya lonjakan kasus paparan Covid-19.
Setelah tren paparan Covid-19 yang berawal dari kota Wuhan, Prop. Hubei medio Desember 2019 lalu menjadi pandemi global, mereda, kasus aktif melonjak lagi menjadi 36.000-an (30 Nov. lalu).
Rencana pelonggaran mobilitas publik yang dijadwalkan akan dimulai Rabu (7/12) langsung menghasilkan signal positif yaitu menguatnya nilai tukar mata uang Yuan, meliwati level psikologis menjadi tujuh dollar AS atau yang tertinggi sejak September lalu.
Hal sama juga terjadi pada Indeks Saham Hangseng (Hong Kong) yang nai menjadi 19.518,29 dan Indeks Saham Gabungan Shanghai yang naik 1,8 persen menjadi 3.211,81.
Mealui kebijakan baru tersebut, otoritas China yang memberlakukan kebijakan prokes ketat “nol Covid-19” segera akan melonggarkan penutupan perbatasan dan penguncian wilayah, bergeser menuju “hidup bersama virus” yang dicanangkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Kebijakan “nol Covid” yang diberlakukan selama ini selain merugikan secara ekonomi, karena terbatasnya kegiatan usaha dan mobilitas barang, jasa serta manusia yang pada gilirannya juga bisa memicu instabilitas politik.
Disambut Baik Perbankan
Pelonggaran prokes Covid-19 oleh otoritas Beijing juga disambut baik oleh kalangan perbankan dan sejumlah analis ekonomi.
Standard Chartered memprediksi, penghapusan sejumlah pembatasan terkait Covid-19 diharapkan akan memulihkan kembali level konsumsi rumah tangga ke level sebelum pandemi (2017 -2019).
Sementara Stephen Innes dari SPI Asset Management menilai, langkah China membuka kembali perbatasannya akan mendorong optimisme pasar terkait kemungkinan percepatan pertumbuhan ekonomi pada 2023.
Sebaliknya, Analis Nomura, Ting Lu memprediksi, pembukaan kembali China kemungkinan dilakukan bertahap dan tidak bakal berjalan mulus.
Buktinya, aktivitas layanan di China anjlok ke posisi terendah enam bulan terakhir pada November lalu akibat kebijakan pembatasan ketat sejalan dengan melonjaknya kasus Covid-19 sehingga mendistorsi permintaan dan operasional kegiatan usaha.
Saat yang tepat untuk “menginjak atau melepas pedal rem” seperti yang diberlakukan Indonesia dalam penanganan pandemi Covid-19 memang harus dlakukan secara cermat. (Kompas/AP/AFP/Reuters/ns)




