PM JEPANG Shinjo Abe (65) tiba-tiba mengumumkan rencana pengunduran diri dengan alasan kondisi kesehatannya memburuk akibat penyakit radang usus kronis (ulcerative colitis) yang sudah lama diidapnya.
“Saya memutuskan mengundurkan diri karena tidak mampu membuat keputusan terbaik bagi rakyat, “ tutur Abe dalam jumpa pers di Tokyo, Jumat (28/8) sembari memohon maaf karena keputusan itu diambil di tengah musibah pandemi Covid-19. Abe adalah PM terlama di Jepang yakni setahun menjabat (2006 – 2007), lalu sejak 2012 hingga saat ini.
Sebelumnya spekulasi bermunculan terkait apakah Abe yang masih menyisakan jabatannya sebagai PM dan Ketua Partai Demokrat Liberal (LDP) sampai September 2021 mampu bertahan akibat penyakit yang menggerogoti kesehatannya dan dalam sepekan terakhir ini ia harus menjalani dua kali perawatan di RS.
Diperkirakan, Sekjen LDP Yoshihide Suga bakal menggantikan posisi Abe sebagai ketua partai, sekaligus kandidat PM terkuat selain Ketua Kebijakan LDP Fumio Kishida dan mantan Sekjen LDP Shigeru Ishiba.
Legaci yang ditinggalkan Abe a.l. terkait kebijakan ekonomi yang disebut Abenomics berupa paket reformasi guna mencari solusi soal struktural ekonomi terkait deflasi, pembengkakan rasio utang domestik terhadap PDB, kontraksi pertumbuhan ekonomi dan melemahnya daya saing global.
Tiga substansi paket reformasi yang digagas Abe yakni relaksasi moneter termasuk menekan inflasi menjadi hanya dua persen, stimulus ekonomi melalui peningkatan belanja pemerintah dan restrukturisasi ekonomi.
Namun sejumlah pengamat menilai, sukses Abenomics sebenarnya sudah berakhir medio 2018 dan Jepang sebagai raksasa ekonomi terkuat ketiga dunia mulai beranjak menuju resesi, diperparah lagi oleh pandemi Covid-19 yang membuat pertumbuhan ekonomi minus sampai 27,8 persen.
Kisah sukses Abe lainnya yakni kedekatan Jepang dengan AS – seteru dalam PD II dan kini mitra utamanya – walau keduanya sering bersitegang terkait isu perdagangan dan relasi dengan bekas seteru lainnya yakni China dan Korsel yang dinilai tidak konfrontatif.
Tradisi kesetiaan dan pengorbanan bagi tanah air dipegang teguh oleh para pemimpin negeri sakura itu, tidak hanya budaya pengunduran diri dari jabatan jika merasa gagal atau tidak mampu, juga aksi-aksi heroik lainnya.
Pilot-pilot Jepang rela berjibaku melakukan aksi Kamikaze dengan menabrakkan pesawat-pesawat yang diawakinya ke kapal-kapal perang sekutu atau melakukan tradisi “hara-kiri” atau merobek perut dengan samurai jika merasa bersalah atau gagal dalam penugasan.
Berbeda dengan sebagian pemimpin atau politisi di negeri ini, walau sudah jelas-jelas terbukti bersalah pun, “ngeyel” nyari pembenaran, jika perlu tebar uang, ada juga yang tidak malu-malu mencalonkan diri lagi, walau sebelumnya sudah terbukti berkhianat pada rakyat, menjadi terpidana korupsi.
Persemaian bagi lahirnya pemimpin atau politisi semacam itu juga cukup subur, mengingat daya ingat pers, dan juga publik yang agaknya singkat atau mungkin pula mereka bersifat permisif atau pragmatis.
Tentu ada saja yang berpandangan, budaya Indonesia berbeda dengan Jepang, tapi jika upaya mempertahankan jabatan dengan segala cara dan habis-habisan, juga jika membangun dinasti kekuasaan dianggap sebagai budaya, apa hal itu masih harus dipelihara dan dipertahankan? (AFP/Reuters/ns)





