COP27: Draft Kesepakatan Mengecewakan

Draft COP27 yang diterbitkan Kerangka Kerja PBB untuk perubahan Iklim (UNFCCC) mengecewakan negara miskin dan pulau-pula kecil karena diangap tidak mencerminkan tanggungjawab negara-negara maju.

RANCANGAN  atau draft kesepakatan yang diterbitkan oleh Kerangka Kerja PBB untuk Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC) pada Pertemuan Para Pihak (COP27) di Sharm El Seheik, Mesir (18/11) mengecewakan, terutama negara miskin dan pulau-pulau kecil.

Menurut laporan Reuters, draft tersebut tidak memuat seruan  penghapusan seluruh bahan bakar fosil dan juga acuan pendanaan terkait kehilangan dan kerusakan yang ditimbulkan oleh pelaku.

Aktivis lingkungan Greta Thumberg misalnya, jauh-jauh hari sebelum pertemuan dimulai, Jumat (11/11) sudah menyatakan tidak aka hadir dalam pertemuan COP27 dengan alasan, ruang (partisipasi-red) bagi masyarakat sipil amat terbatas.

“COP Cuma jadi panggung para pemimpin negara mencari pencitraan dan penuh dengan kepura-puraan, sementara peserta juga tidak berniat mengubah sistem secara komprehensif melainkan hanya sebatas mendorong kemajuan bertahap.

Draft yang disusun sebagian besar memuat pengulangan kesepakatan dalam COP26 di Glasgow, Skotlandia tahun lalu yakni upaya untuk mempercepat penurunan emisi tanpa menyebut kesepakatan tentang penghapusan seluruh bahan bakar fosil seperti yang diminta India dan Uni Eropa.

Bahkan dalam drat tersebut tidak disebutkan secara tegas secara eksplisit menyepakati aspek pendanaan untuk kehilangan dan kerusakan akibat krisis iklim yang disuarakan negara miskin dan pulau-pulau kecil.

Penerbitan draft kesepakatan awal pertama didasarkan oleh permintaan lebih 190 delegasi peserta COP27 berujung kekecewaan sejumlah negara miskin dan pulau-pulau kecil yang menganggap, negara-negara kaya lah seharusnya yang bertanggungjawab terhadap krisis iklim kerap menunda menyepakati pendanaan sebagai kompensasi kerusakan atau kehilangan.

Kepala Delegasi COP27 Greenpeace Int’l Yeb Sano menilai, draft kesepakatan tersebut mencerminkan perundingan yang berjalan buntu, padahal jika disepakati, diharapkan dapat membuka jalan bagi solusi krisis iklim yang makin parah.

Terlepas dari penyusunan draft kesepakatan yang masih berjalan, Uni Eropa tengah menyiapkan pendanaan guna meningkatkan peluang kesepakatan dimana yang diusulkan adalah kompensasi bencana iklim melalui pengurangan emisi lebih ketat.

Proposal yang diajukan UE menekankan pendekatan dua arah yang akan memberikan pendanaan bagi negara-negara miskin untuk mendorong penurunan emisi termasuk penghentian bertahap bahan bakar fosil, gas alam dan minyak.

Dunia adalah milik kita bersama, jadi mari kita tekan emisi karbon yang memicu perubahan iklim bersama-sama!