PEPATAH lama mengatakan, datang tampak muka, pergi tampak punggung. Sekarang pepatah itu tak relevan lagi, karena orang datang yang kelihatan hanya maskernya, bukan mukanya. Kalau punggungnya masih, orang pergi masih kelihatan punggungnya. Tapi awas, masker di Jakarta bisa berharga Rp 250.000,- lho, mana kala Anda lupa pakai atau niyatingsun keluar rumah tanpa masker karena berngeyel diri.
Sekarang masker murah, Rp 5.000.- juga dapat. Jangankan di apotek, di kakilima juga sudah tersedia masker dengan berbagai model. Maka buat kaum spekulan yang menjual masker online sampai Rp 31 juta, makan tuh masker jika ada yang mau beli. Tapi ironisnya lagi, ada lho orang Palembang yang tertipu toko online yang ternyata hanya onlen-onlenan belaka. Uang Rp 36 juta ditransver, yang datang bukan masker segepok tapi batu bata. Mending kalau bertruk-truk, hanya satu batang.
Sebelum isyu Corona berhembus, yang pakai masker orang tertentu saja, khususnya yang “sok hiegenis” atas buruknya udara di Ibukota. Tapi setelah Presiden Jokowi mengakui per 2 Maret 2020 bahwa terdapat 2 WNI yang terpapar Corona, wush……harga masker mendadak melejit, setiap apotek tertera tulisan: masker kosong.
Sebab di mana-mana terjadi kekosongan masker. Maka harga masker dimainkan, sampai-sampai BUMD PD Pasar Jaya milik Pemprov DKI ikut-ikutan jual masker sampai Rp 300.000,- perboks. Padahal sama-sama Pemda, di Surabaya Walikota Tri Rismaharini menggratiskan saja pembagian masker tersebut. Ironiskan, Pemprov DKI waktu itu malah mencekik warganya sendiri. Untung saja hanya beberapa hari saja, karena ditegur gubernurnya.
Sekarang masker sudah merakyat, meski Kemenkes atau Dinas Kesehatan DKI tak punya program memasyarakatkan masker dan memaskerkan rakyat. Berkat peringatan dr. Akhmad Yurianto –jubir Corona– dari Istana atau BNPB setiap sore, masker telah dipakai di mana-mana. Muka tertutup masker nggak papa, ketimbang mata tertutup selamanya gara-gara Covid-19.
Terus terang, pakai masker itu tidak nyaman, sebagaimana tidak nyamannya orang miskin terdampak Corona, tapi terlewatkan tak dapat bantuan sembako atau uang tunai Rp 600.000,- Rasanya hidung dan mulut tersumbat, karena zat O2 yang terhirup menjadi terbatas. Apa lagi bila sedang ngos-ngosan karena habis berlari atau apa kerja apa saja, makin terasa betapa tidak nyamannya pakai masker. Maka banyak terlihat di jalan, orang pakai masker sekedar untuk menutup mulut belaka. Hidung bebas menghirup udara, termasuk jika tercemar Covid-19.
Di musim Corona ini, apa lagi DKI Jakarta takkan melonggarkan PSBB-nya, maka pakai masker hukumnya wajib. Tak ada alasan susah belinya, karena di K-5 juga banyak dijual. Kenapa DKI tak mau melonggarkan PSBB, sebab zona merah di Ibukota belum berubah. Perusahaan yang diminta tutup sementara juga banyak yang bandel, secara nyolong-nyolong banyak yang buka. Maka tak mengherankan di DKI Jakarta yang terpapar sampai 5.688 kasus.
Sekarang Pemprov DKI memperketat penggunaan masker. Setiap warga keluar rumah harus pakai, jika tidak siap didenda Rp 25.000,- Sayang kan, gara-gara tak mau pakai masker harga Rp 5.000,-an malah kena denda Rp 250.000,- Mereka ini bisa karena lupa belaka, tapi bisa juga karena berngeyel diri. Dia yakin bahwa dirinya yang rosa macam Mbah Marijan otomatis
Cuma sekarang, gara-gara masker orang bisa tidak kenal tetangga sendiri, sebab dua pertiga wajah kita tertutup masker. Orang mengenali orang hanya dari gaya jalan atau suaranya belaka. Dan karena masker pula, kita jadi tidak tahu “cuaca” di wajah lawan bicara. Sedang senyum, cemberut, atau berduka, sama sekali tidak kelihatan. Beruntung bagi mereka yang hidung mancung ke dalam atau bibir sumbing atau gigi tonggos, terselamatkan oleh masker-masker. Makanya jika nontoni atau naksir cewek-cowok, tunggu sampai wabah Corona usai, agar tidak sampai salah pilih.
Gara-gara Corona, maka peribahasa lama “Datang tampak muka pergi tampak punggung” perlu dikoreksi seperlunya. Penggalan kalimat pergi tampak punggung masih bisa dipertahankan, tapi kalimat datang tampak muka harus dikoreksi total menjadi: datang tampak masker. Itu baru keren dan kekinian. (Cantrik Metaram).





