
MASIH ingat, Covid-19 disebabkan oleh virus corona pertama kali terdeteksi di Wuhan, Provinsi Hubei, China pada pertengahan Desember 2019 yang lalu yang dengan cepat menyebar menjadi pandemi global ke seantero jagat?
Pemda Kota Wuhan, Provinsi Hubei bakal melakukan tes asam nukleat terhadap 11 juta warga setelah ditemukan tujuh kasus penularan lokal virus corona yang menyebkan Covid-19 di kalangan pekerja migran.
AFP melaporkan (2/8), kasus penularan baru tersebut cukup mengagetkan karena sejak Covid-19 mulai terdeteksi di Wuhan medio Desember 2019 dan terbebas pada Maret 2020, kini menyebar lagi.
Menurut catatan, virus corona yang berlansung sekitar tiga setengah bulan sampai akhir Maret 2020 memapar hampir 342 ribu warga Wuhan, 5.528 meninggal dan 9.756 menjalani isolasi di pusat-pusat layanan kesehatan.
Pemerintah China bergerak cepat menghentikan penyebaran Covid-19 dengan melakukan penutupan total kegiatan masyarakat (lockdown) tidak hanya di kota Wuhan saja tetapi juga di wilayah sekitarnya mencakup 50 juta orang.
Berkat kebijakan lockdown masif sejak awal 2020 tersebut, pada April 2020, Wuhan dan wilayah sekitarnya sudah dinyatakan bebas Covid-19 dan penduduk kembali ke kehidupan normal walau tetap dianjurkan mengenakan masker dan melanjutkan kebiasan mencuci tangan.
Selain di Wuhan, “Negeri Panda” itu juga melaporkan 61 kasus transmisi lokal yang diakibatkan oleh varian Delta, berawal dari petugas kebersihan di Bandara Nanjing, lalu menyebar ke sejumlah wilayah sehingga pada pertengahan Juli tercatat 400 kasus baru.
Temuan kasus-kasus Covid-19 baru itu tak ayal telah mereduksi kisah sukses pemerintah China mengatasi penyakit yang menjadi pandemi global yang sampai 2 Juli sudah memapar 183.388.992 orang dan menewaskan 3.970.595 orang di hampir seluruh negara.
Amerika Serikat menempati angka korban tertinggi Covid-19 dengan 340.560.646 orang terpapar dan 620.639 orang meninggal, disusul India sebanyak 30.452.937 orang terpapar dan 400.271 orang meninggal, lalu Brazil 18.622.304 terpapar dan 520. 189 orang meninggal.
Aktifkan lagi Testing
Sejumlah kota di China saat ini mulai mangaktifkan lagai pemeriksaan, menutup wilayah yang terserang Covid-19 dan mengarantina warga yang pernah melakukan kontak erat dengan pasien.
Di Yangzhou, kota berpopulasi 1,3 juta jiwa, setiap rumah hanya satu orang yang diizinkan berbelanja atau membeli kebutuhan mendesak, sementara di ibu kota Beijing, ditetapkan larangan kunjungan turis saat puncak liburan musim panas.
Warga dilarang keluar rumah kecuali keperluan mendesak, sementara  otoritas setempat menegaskan bakal habis-habisan mencegah penularan.
Pemunculan baru virus corona yang telah bermutasi menjadi varian baru, tidak saja terjadi di China, tetapi juga di sejumlah negara maju seperti AS, Inggeris dan sejumlah negara Eropa lainnya, begitu pula Australia dan Jepang.
Di Indonesia sendiri, sejak Juni lalu terjadi serangan gelombang kedua Covid-19 yang lebih ganas dari sebelumnya sehingga pemerintah terus memperpanjang kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilanjutkan dengan sejumlah versi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala mikro, PPKM Darurat maupun PPKM level (tergantung angka positivity rate, keterisian bed di RS (BOR) dan tingkat penyebaran di suatu wilayah).
Covid-19 tidak bisa diajak kompromi, terbukti di wilayah yang sudah terbebas pun tidak mustahil bakal menyebar lagi sehingga tidak perlu buru-buru menganggap perang melawannya sudah usai.




