MEDAN – Cuaca ekstrem membuat nelayan tradisional di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, enggan melaut dan memilih mencari nafkah menjadi tukang bangunan.
Seorang nelayan asal Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah, Anto Pasaribu (44) mengatakan, gelombang tinggi di wilayah perairan Tapanuli Tengah sebenarnya sudah terjadi sejak Desember 2016. Namun, kala itu mereka masih berani melaut nmeski tak sampai ke tengah.
“Seminggu ini intensitas hujan tinggi. Selain gelombang, arus laut juga kencang. Jadi enggak ada ikan. Makanya daripada kenapa-kenapa, kita lebih milih enggak melaut,”ujarnya, Sabtu (7/1/2017).
Begitu juga dengan Nadim (39), nelayan asal Kecamatan Badiri. Ia mengaku sudah dua pekan lalu berhenti melaut dan kini bekerja serabutan untuk menghidupi keluarganya.
“Eggak berani kita (melaut), ombaknya tinggi kali. Takutnya pulang enggak bawa ikan, atau malah nyawa kita hilang di tengah laut,” ungkapnya.
Mereka pun putar otak harus tetap bekerja demi menghiudpi keluarga, “Ya hidupkan harus lanjut meski enggak ke laut. Sekarang jadi tukang bangunan, kemarin sempat enggak ada kerjaan ya di rumah saja betulkan jala (alat tangkap). Kalau ada yang mau mengajak demo pun kita kerjakan sekarang ini, yang penting ada pemasukan,” tambahnya.
Seiring dengan berhentinya para nelayan melaut, maka pasokan ikan di sejumlah pasar tradisional di Tapteng terganggu. Lapak-lapak pedagang yang biasanya penuh dengan hasil laut, kini hanya menjual ikan air tawar.
“Udah seminggu ini kosong. Kalau ada pun sedikit sekali. Padahal harga ikan biasanya bagus kalau akhir tahun ini. Tapi karena enggak ada, ya harga jadi tinggi. Masyarakat enggak mau beli. Mereka lebih mau pindah membeli ikan air tawar, atau daging,” keluh Rosmiani, pedagang ikan di Pasar Baru Pandan, Tapanuli Tengah, dikutip dari Okezone.





