KEPULAUAN SERIBU – Warga Kepulauan Seribu yang diduduki sekitar 20.000 jiwa penduduk hingga kini tidak punya lahan khusus pemakaman dan masih terbayang masalah kesehatan yang minim.
Tidak hanya lahan pemakaman, urusan mengangkut jenazah dari satu pulau ke pulau yang akan dijadikan lokasi pemakaman pun tak kalah rumit.
“Kalau mau pemakaman harus izin kepada yang punya tanah, sementara ahli waris yang banyak anaknya itu satu mengizinkan, yang lain tidak mengizinkan. Secara agama ini bermasalah,” ujar warga di kegiatan Musrenbang di Kantor Kepulauan Seribu, Rabu (22/3/2017).
Diberitakan merdeka.com, warga menambahkan jika ada yang meninggal di rumah sakit di Jakarta, keluarga pasti kesulitan membawa jenazah untuk dibawa pulang ke Kepulauan Seribu. Mereka terpaksa mengangkut jenazah tersebut dengan kapal wisata. Tak jarang, ada penumpang lain yang merasa keberatan jika harus satu kapal dengan jenazah.
Salah satu warga yang tergabung dalam Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK), Ismed pernah menceritakan, mereka sudah dijanjikan kapal jenazah sejak zaman Gubernur DKI masih dijabat Jokowi.
“Kapal jenazah sangat penting. Kalau ada yang meninggal sampainya suka lama dan biaya ongkosnya mahal,” kata Ismed di Pulau Pramuka.
“Di sini kalau bawa jenazah harus pakai ojek kapal. Orang yang sedang berduka harus mengeluarkan uang banyak untuk ongkos angkut jenazah. Ini miris sekali Pak,” keluhnya.
Selain masalah tersebut, warga d i Kepulauan Seribu juga masih terkendala masalah kesehatan dimana rumah sakit disana hanya memiliki 17 kasur, satu apoteker dan dua dokter.
Dengan permasalahan yang masih harus dihadapi, warga hanya berharap ada perhatian dari pemerintah, entah siapa yang akan memimpin DKI Jakarta, terpenting bagi mereka pemimpin dapat mengeluarkan mereka dari kesulitan-kesulitan yang selama ini dihadapi.




