Daging Sapi Makin Tak Terjangkau

Harga daging sapi terutama di tengah Ramadhan dan menyongsong Idul Fitri terus naik, padahal jumlah impor plus produksi nasional sudah melebihi angka konsumsi. Diperkirakan ada yang memainkan stok atau praktek rekayasa harga dengan menjual daging oplosan dari daging kerbau impor dengan harga jual sama dengan daging sapi. .

HARGA daging sapi di dalam negeri yang terus merambat naik dari waktu ke waktu membuat protein hewani yang sangat dibutuhkan manusia bertambah sulit dijangkau warga terutama dari strata bawah.

Dari data, terungkap harga daging sapi yang pada tahun 2012 Rp76.925 per Kg, naik tajam menjadi Rp134.690 pada tahun 2022 dan di awal Ramadhan kini pada kisaran antara Rp 134.000 ke atas, bahkan dilaporkan, di Batam tembus Rp170.000 (23/3).

Jajak pendapat harian Kompas melibatkan 502 responden di 34 kota besar, 8 – 10 Maret lalu menyebutkan, 71,2 persen responden warga  strata bawah mengosumsi daging sapi kurang 10 kali dalam setahun, hampir separuh (49,2 persen) kelas menengah ke bawah, 26 persen menengah atas dan 38,1 persen strata atas.

Sedangkan yang mengosumsi daging sapi seminggu lebih dari tiga kali yakni 38,1 persen strata atas dan 45,8 persen strata menengah atas. Penyebabnya, kemungkinan muncul kesadaran dari kalangan atas mengurangi konsumsi daging dengan alasan kesehatan.

Sebaiknya, hanya 2,5 persen masyaraat strata bawah dan 11,7 persen strata menengah bawah yang mengosumsi daging sapi lebih dari tiga kali seminggu, kemungkinan karena asalan ekonomi.

Meningkatnya konsumsi daging sapai sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun, sementara produksi dalam negeri tidak mampu memenuhinya, pada gilirannya juga membuat impor terus naik.

Impor sapi yang sudah dilakukan pemerintah RI sejak 1969 atau 53 tahun lalu sebanyak 2.100 ton saat produksi daging sapi nasional baru mencapai 164.900 ton.

Sementara data terakhir impor daging sapi pada 2021 tercatat 276.761 ton atau 12 kali lipat dari angka 1969, sedangkan produksi nasional 487.802 ton dan angka konsumsi nasional 670.799 ton.

Berdasarkan data tersebut, produksi daging sapi nasional (487.802 ton) plus impor 276.761 ton sama dengan 764.563 ton atau berarti surplus 93.764 ton jika dikurangi konsumsi nasional 670.799 ton.

Anomali

Yang sulit dipahami, kenaikan produksi daging sapi nasional dan impor ternyata alih-alih membuat harga turun, sebaliknya malah merambat naik dari tahun ke tahun, dari Rp2.536 per Kg pada 1983 menjadi di atas Rp130.000, bahkan di tengah Ramadhan dan menjelang Idul Fitri nanti diperkirakan akan terus naik.

Jika kenaikan harga daging sapi dikaitkan dengan laju inflasi juga tidak sepenuhnya benar, mengingat laju inflasi dari 1984 sampai 2022 rata-rata hanya 8,6 persen, sementara persentase kenaikan harga daging sapi pada periode sama, rata-rata 11,5 persen.

Hal itu, menurut purnakarya peneliti Balitbang Kementan Prof. Tjeppi Daradjatun Sudjana kemungkinan terjadi akibat permainan stok. “Harga naik artinya ada kelangkaan atau stok tersedia tetapi dilempar ke pasaran sedikit demi sedikit, “ tuturnya.

Menurut Tjeppi yang juga mantan Dirjen Peternakan (2007 – 2010), assimetri informasi bisa juga membuat harga tidak turun walau ada daging impor lebih murah, misalnya akibat praktek pengoplosan daging kerbau impor dari India yang harganya separuh lebih murah tapi dijual setara dengan harga daging sapi.

Pemerintah tentu harus lebih dalam lagi mengawasi praktek permainan bisnis daging sapi agar rakyat terutama strata paling bawah tidak dirugikan serta mampu membelinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement