Dalam Sehari, Dua Warga Miskin Bojonegoro Pilih Akhiri Hidupnya

ilustrasi: Bunuh diri

BOJONEGORO – Rabu (5/10/2016), ada dua warga Kabupaten Bojonegoro yang berada dalam kemiskinan memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Keduanya gantung diri karena diduga menderita sakit menahun yang tak kunjung sembuh dan hanya dirawat di rumah karena keterbatasan biaya.

Salah satu pelaku gantung diri tersebut yakni Sae (60) warga Desa Ngrancang, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro yang rumahnya masih berdinding papan kayu. Ia diketahui sudah meninggal dengan tubuh menggantung di kayu usuk kamarnya dengan tali rafia berwarna merah.

Pelaku diduga tidak kuat menahan sakit yang sudah lama dideritanya, sehingga memilih untuk mengakhiri hidupnya.

“Kejadian tersebut adalah murni gantung diri dan tidak ditemukan adanya unsur penganiayaan. Selanjutnya jenazah diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan,” ujar Kasubag Humas Polres Bojonegoro, AKP Suyono, dikutip dari beritajatim.

Kasus yang sama juga terjadi di Desa Deling Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro. Surodamin (80) nekad mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri juga karena telah lama sakit-sakitan. Pelaku diketahui gantung diri pagi tadi sekitar pukul 05.00 WIB saat akan ditawari minum oleh anaknya.

Keduanya masuk kepada golongan kantong kemiskinan di Bojonegoro yang rata-rata penduduknya berkerja sebagai buruh tani maupun petani.

Menurut Direktur Bojonegoro Institute (BI), AW Saiful Huda, kantong kemiskinan di Bojonegoro berada di pedesaan, khususnya wilayah sekitar hutan. Menurut hasil analisis yang dilakukan BI, 20 peringkat desa dengan jumlah penduduk miskin tertinggi hanya dua diantaranya yang tidak masuk wilayah hutan.

Karenanya, menurut Aw, kantong-kantong kemiskinan harus menjadi prioritas wilayah intervensi program penanggulangan kemiskinan. Baik dari sisi politik kebijakan anggaran, maupun strategi dan bentuk program harus sesuai karakteristik kemiskinan masing-masing wilayah. Sehingga masalah pendidikan, kesehatan dan kebutuhan masyarakat bisa teratasi.

“Bahwa kemiskinan disebabkan faktor multidimensi. Sehingga pendekatannya juga harus secara multidimensi dan terintegrasi,” jelasnya.

Advertisement