PANGANDARAN – Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Dan Penanggulangan Bencana Kab Pangandaran Nana Ruhena mengatakan dari 14 alat deteksi dini tsunami yang terpasang di Kabupaten Pangandaran, hanya dua yang masih berfungsi.
Dua alat yang masih berfungsi itu terpasang di Telkom Pangandaran dan Bojongsalawe Parigi. Sedangkan untuk jangkauan voice dan sirine alat peringatan dini itu hanya mencapai 2 km saja.
Ia mengatakan, dengan pantai sepanjang 91 km, idealnya terpasang 35 alat deteksi dini tsunami di Pangandaran.
“Ya karena dari sepanjang pantai di Pangandaran tidak semua ada penduduknya, ya idealnya harus terpasang sebanyak 30 sampai 35 EWS,” ujarnya, dilansir PR.
Alat deteksi dini tsunami ini sangat penting. Alat ini akan memberi peringatan pada warga jika terjadi potensi tsunami. Masyarakat akan bergerak menuju jalur evakuasi dan mencari tempat yang aman.
Saat terjadi gempa di Tasikmalaya berkekuatan 6,9 SR pada Jumat, 15 Desember 2017 lalu, BMKG mengumumkan adanya potensi tsunami akibat gempa itu di di selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.
Namun, sekitar pukul 2.30 WIB, atau beberapa jam setelah terjadinya gempa, peringatan dini tsunami tersebut dinyatakan telah berakhir. Kemudian, BMKG menyampaikan bahwa kondisi sudah aman dari potensi tsunami.





