Demonstrasi Gaza Masuki Jumat Ketiga, 30 Warga Palestina Terluka

Ilustrasi Kerusuhan di Gaza, 6 April 2018/ Anadolu
GAZA – Ribuan Palestina berkumpul di sepanjang perbatasan timur Jalur Gaza dengan Israel untuk demonstrasi di  Jumat ketiga  yang sedang berlangsung terhadap pendudukan Israel selama puluhan tahun.

Para pengunjuk rasa melambai-lambaikan bendera Palestina  dan lainnya membakar senjata Israel  sambil meneriakkan slogan-slogan pro-perlawanan di sepanjang pagar perbatasan.

Unjuk rasa dimulai pada 30 Maret, ketika puluhan ribu warga Palestina berkumpul di berbagai titik di sepanjang perbatasan untuk menuntut agar mereka diizinkan kembali ke rumah mereka di Palestina yang bersejarah.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 30 warga Palestina terluka pada Jumat di tengah upaya oleh tentara Israel untuk membubarkan demonstran.

“Tiga puluh pengunjuk rasa terluka, salah satunya kritis, di sebelah timur [kota] Khan Yunis,” juru bicara kementerian Ashraf al-Qidra mengatakan kepada Anadolu Agency.

Menurut saksi mata, pasukan Israel menggunakan gas air mata terhadap rumah sakit lapangan yang didirikan di dekat perbatasan.

“Tentara Israel menargetkan rumah sakit lapangan di dekat Khan Yunis dengan gas air mata, menghalangi pekerjaan petugas medis,” bunyi sebuah pernyataan kementerian.

Dalam perkembangan terkait, ratusan orang Palestina berubah menjadi pemakaman Abdullah Mohamed al-Shehri, seorang warga Palestina berusia 28 tahun yang menjadi martir Kamis setelah diserang oleh tembakan Israel lintas-perbatasan.

Setidaknya 33 warga Palestina telah menjadi martir oleh tembakan tentara Israel sejak demonstrasi dimulai tiga pekan lalu, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Unjuk rasa itu merupakan bagian dari demonstrasi enam minggu yang akan mencapai puncaknya pada tanggal 15 Mei. Hari itu akan menandai ulang tahun ke-70 pendirian Israel – sebuah peristiwa yang disebut oleh warga Palestina sebagai “Nakba” atau “Malapetaka”.

Para demonstran menuntut agar para pengungsi Palestina diberi “hak untuk kembali” ke kota-kota dan desa-desa mereka di Palestina yang bersejarah dari mana mereka didorong pada tahun 1948 untuk memberi jalan bagi negara baru Israel.

Advertisement