Penulis bersama sejumlah wartawan Indonesia lainnya diundang pemerintah Pakistan untuk menyaksikan program deradikalisasi terhadap mantan “combatant” Taliban di lembah Swat, Propinsi Punjab, Pakistan, awal Februari 2013.
WAJAH Mohammed Natsir (30) tampak semringah usai mengikuti tes kejiwaan yang dilakukan di Pusat Deradikalisasi para mantan kombatan Taliban hari itu.
Jika dinyatakan lulus, berarti ia dapat menghirup udara bebas lagi di tengah masyarakat, bersua dan berkumpul dengan kaum-kerabatnya, mulai merajut kehidupan baru dan juga merintis masa depannya.
Natsir, pemuda di salah satu desa di kawasan wisata Swat, semula hanya ikut-ikutan teman sedesanya yang sudah lebih dulu bergabung dengan kelompok Taliban.
Lelah dan merasa jenuh bergerilya, melancarkan aksi-aksi teror terhadap warga, berpindah-pindah terus guna menghindari kejaran aparat keamanan, begitu ada peluang, Natsir kabur dan menyerahkan diri, kemudian ia dibantarkan petugas ke pusat deradikalisasi.
Republik Islam Pakistan yang selama bertahun-tahun menjadi korban aksi terorisme, malah memperoleh stigma buruk terkait keamanan di negeri itu akibat gencarnya pemberitaan media Barat mengenai berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi.
“Tidak ada negeri yang lebih menderita akibat aksi-aksi teroris selain Pakistan, “ kata pejabat Deplu AS, Philip J. Crowley .
Aksi kekerasan dan teror memang tidak lepas dari Pakistan di tengah gunjang-ganjing politik nasional dan konflik berkepanjangan di negara tetangganya, Afghanistan.
Pakistan harus menanggung beban untuk menampung aliran pengungsi yang berusaha menghindari ancaman kematian, aksi teror dan kelaparan melalui jalur-jalur masuk di titik sepanjang 2.650 Km di tapal batas Afganistan.
Berbaur dengan pengungsi
Para kombatan Taliban berbaur dengan para pengungsi, mengalir dari berbagai jalur di sepanjang wilayah semi otonomi (FATA) di perbatasan. Suku-suku lokal yang mendiami wilayah itu juga tidak lepas dari konflik antarsesama mereka, dan baru kompak saat menghadapi ancaman dari luar.
Dari wilayah otonomi Khyiber Pakthunkhwa saja, ada 128 jalur masuk (satu jalur resmi, 16 jalur rutin) bagi pelintas batas termasuk kelompok militan. Sekitar 1.300 kendaraan dan 6.800 orang melintas dari jalur-jalur tersebut setiap hari. Di wilayah Baluchistan juga terdapat 234 rute masuk (satu jalur resmi dan 4 jalur rutin) yang dilintasi 12.000 kendaraan dan 32.000 pelintas batas setiap hari.
Kondisi alam berupa pegunungan tandus diselang-selingi jurang, lembah, ngarai dan sungai, membuat upaya mencegah masuknya pelintas batas bukan hal mudah, dipersulit longgarnya penegakan hukum , termasuk hukum adat (Pakhtunwali) dan saling ketergantungan ekonomi dan kekerabatan antarwarga setempat.
Di wilayah Pakistan, para pengungsi ditampung di kamp-kamp pengungsian, tersebar di sejumlah kawasan perbatasan yang dibangun oleh pemerintah dan organisasi-organisasi internasional. Pakistan yang selama bertahun-tahun memerangi terorisme, telah kehilangan nyawa 10.000 anggota militer dan polisi juga merenggut nyawa 30.000 warga sipil yang terperangkap di tengah konflik bersenjata.
Perang melawan teroris sangat menguras energi pasukan pemerintah, mengingat para pelaku berbaur di tengah pemukiman suku-suku setempat. Bahkan,sepanjang tahun 2009, rata-rata 10 anggota pasukan Pakistan tewas setiap hari.
Selain menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, baik sipil maupun militer, pemerintah juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk menggelar 150.000 anggota pasukan dan untuk merehabilitasi atau membangun prasarana dan sarana yang rusak akibat konflik.
Menteri Luar Negeri (sebelumnya menteri perekonomian) Pakistan saat itu, Hina Rabbani mengungkapkan, negaranya kehilangan 35 milyar dolar AS akibat peperangan dan aksi-aksi teroris.
Selain menggelar sekitar 1.000 kali operasi, diantaranya 250 kali lebih operasi berskala besar sejak 2003, militer Pakistan juga membangun 821 pos pengamatan, melakukan patrol, mengenakan jam malam dan memasang sistem pengawasan biometrik untuk mencegah infiltrasi pelintas batas yang sering disusupi Taliban.
Operasi militer dilancarkan secara hati-hati, karena harus bisa diterima dan mendapat dukungan publik, dilakukan seperlunya sesuai letak geografi, sejarah dan budaya setempat dan mengedepankan upaya untuk membangun kepercayaan rakyat.
Operasi, diawali dengan pembersihan wilayah dari elemen teroris (clear), menjaga situasi yang sudah kondusif (hold), membangun kembali prasarana dan sarana publik yang rusak (build), dan pada fase terakhir, menyerahkan administrasi kepemerintahan pada aparat lokal.
Deradikalisasi
Program deradikalisasi dalam upaya mencegah bangkitnya kembali aksi-aksi kelompok miitan dan ekstrim dilakukan di kawasan wisata Swat, Propinsi Punjab yang semula dijadikan basis Taliban untuk melancarkan aksi-aksinya.
Operasi militer digelar untuk membersihkan wilayah lembah itu dari anasir-anasir militan Taliban setelah mereka melakukan kekerasan, pembunuhan dan penyerangan terhadap pos-pos polisi, perusakan bangunan rumah sakit dan sarana umum lainnya.
Kemudian dalam waktu tiga bulan, wilayah itu dikosongkan dari penduduk yang baru dipulangkan kembali setelah bersih dari anasir Taliban dan pemerintah lokal terbentuk.
Program pemninaan bagi para mantan kombatan Taliban ditangani oleh Divisi ke-19 Angkatan Darat Pakistan dengan menempatkan mereka di pusat deradikalisasi di kawasan lembah Swat.
Selain mengikuti training seperti memelihara lebah, mengoperasikan komputer, menenun, memperbaiki alat elektronik atau mendirikan bengkel, para mantan kombatan mendapatkan siraman rohani untuk mengamalkan ajaran Islam secara benar: “haram membunuh orang tidak berdosa atau melakukan bom bunuh diri”
Seusai mengikuti program berjangka tiga bulan itu, mereka dilepas kembali ke tengah mayarakat, setelah melalui tes kejiwaan. Modal kerja diberikan pada mereka yang ingin membuka usaha, juga kemudahan bagi yang akan melanjutkan pendidikan.
Program deradikalisasi sudah menelorkan ribuan alumni berusia mulai dari remaja sampai di atas 50 tahun. Separuh dari mereka buta aksara atau tidak pernah mengenyam pendidikan.
Panglima Divisi ke-19 AD Pakistan Mayjen Ghulam Qamar yakin, para mantan kombatan tersebut sudah tobat karena tidak ada lagi ruang gerak untuk mengulangi aksi kejahatan mereka .“Tidak mungkin mereka kembali menjadi teroris karena tidak ada rakyat yang bersedia menerima mereka, “ ujarnya.
Seluruh rakyat, ujarnya, menentang kehadiran Taliban karena mereka sudah trauma oleh aksi-aksi kelompok militan yang hanya menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan.
Eskalasi aksi terorisme di Indonesia juga sangat mengkhawatirkan dengan tetangkapnya sejumlah pelaku perencana pemboman di beberapa tempat di penghujung tahun ini, sementara program deradikalisasi di lapas-lapas agaknya juga tidak berjalan baik.
Napi teroris yang ditempatkan di bui bersama napi tindak pidana lainnya malah berpotensi memaparkan virus terorisme, ditambah dengan kondisi lapas yang “overcrowded” dan miskin fasilitas , tidak membuat kondisi fisik dan mental para napi membaik.
Sudah menjadi rahasia umum pula, alih-alih menjadi pusat pembinaan dan rehabilitasi, ada lapas yang menjadi pusat kendali bisnis narkoba, bahkan malah pabrik yang memproduksi zat haram itu. Praktek pilih kasih pelayanan dan pungli oleh petugas lapas terhadap napi juga sering terjadi. Yang berduit dilayani, sementara napi miskin hidup tertekan di bui.
Mungkin Indonesia bisa meniru Pakistan untuk membangun pusat deradikalisasi khusus bagi para pelaku aksi terorisme.





