Derita Manusia Perahu Teluk Jakarta

JAKARTA (KBK)- Sepekan sudah Ahmad Jamal (63) dan keluarganya tinggal di perahu. Tragedi penggusuran rumahnya pada Senin (11/4) memaksa dirinya dan puluhan keluarga nelayan lain harus tidur terombang-ambing ombak laut. Hembusan angin malam dan kotornya air laut karena sampah dan kayu-kayu sisa penggusuran mengancam mereka terserang penyakit.

Perahu tradisional yang biasanya dimuati jaring dan ikan, kini hanya muat untuk alat masak serta satu buah kasur kapuk untuk istri dan ketiga anaknya. Bukan uang ganti rugi yang ia harapkan, alasannya tetap tinggal di perahu karena ia tidak mendapatkan rumah susun di yang di janjikan Pemerintah Provinsi Jakarta.

“Waktu itu saya sedang singgah di Pulau Harapan habis menjaring ikan. Ba’da magrib istri saya telpon, malam itu juga saya paksain nyebrang dari Pulau Harapan,” ungkapnya.

Empat jam perjalanan ia tempuh untuk cepat tiba di rumah. Tak sempat tidur, selepas solat subuh dirinya langsung pergi untuk mendapatkan kunci rusunawa di Rawa Bebek. Nasib malang, saat ingin meminta kunci, staff kelurahan Luar Batang mengatakan waktu pendaftaran sudah ditutup sejak dua hari sebelumnya.

Rusunawa tidak ia dapatkan, uang untuk kontrak rumah pun tak ia miliki. Pasalnya uang yang ia miliki sudah habis untuk membeli solar perahu. “Sekali ke laut itu habis 60 liter. Belum lagi kebutuhan yang lain. Rp500 ribu mah habis,” ujarnya.

Hasil pendapatan ikan yang tidak maksimal karena harus mendadak pulang mengakibatkan Ahmad merugi. Baru sedikit ikan yang ia dapatkan. “Melaut terakhir hanya dapat Rp 200 ribu,” jelasnya.

Uang itu kemudian dijadikan modal menjual kopi dan minuman hangat lainnya. Ahmad dan istrinya bergantian menjaga dagangannya di atas perahu. Berharap untungnya dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Dikatakannya, sembilan hari sudah ia dan anak pertamanya tidak  melaut. Modal untuk membeli solar tidak ia kantongi. Selain itu perahu yang biasa menjadi senjata utama berburu ikan, kini harus menjadi rumah untuk berteduh  beralaskan terpal dan selimut seadanya.

Terdengar kabar bahwa tepi laut tempat perahunya bersandar juga terdampak revitalisasi Pasar Ikan, dirinya bingung dan pasrah. Pasalnya jika harus terusir, ia dan keluarganya tidak ada tempat lain untuk tinggal.

“Walau perahu bisa jalan, tapi harus di dermaga mana kita tinggal? Tempat lain juga sudah penuh perahu, itu kan kawasan nelayan lain,” pungkasnya.

Advertisement