Desa Kademangan di Jombang Sudah Jadi Langganan Banjir Selama 53 Tahun

Ilustrasi Banjir Medan Maimun Selasa (7/11/2017)/ Antara

JOMBANG – Tiga Kecamatan yakni Kecamatan Bareng, Mojowanro, dan Kecamatan Mojoagung dan terparah diderita Desa Kademangan, Kecamatan Mojoagung.

Penduduk Desa Kademangan mengaku banjir sudah menjadi cerita basi bagi mereka yang sudah menjadi langganan banjir sejak 1964, atau sudah 53 tahun lamanya, tanpa ada perubahan yang berarti.

Cerita penderitaan juga fisik dan psikis, kehilangan harta benda hingga gangguan kesehatan dialami penduduknya, setiap kali musim banjir datang. Biasanya di musim banjir, air bah cepat datang, tapi cepat pula surut. Demikian pula banjir kali ini, meski tergolong parah, air berangsur surut Rabu  (20/12/2017) siang.

 

Rejeki (56), salah satu warga Dusun Kedondalem, Desa Kademangan berkisah, seingatnya sejak kecil, banjir sudah rutin melanda dusunnya. “Saya masih kelas 2 SD, tahun 1964, di kampung ini sudah dilanda banjir,” katanya.

Saat itu, Dusun Kebondalem belum banyak dihuni warga. Salah satunya ayah Rejeki, pensiunan karyawan pabrik kain di desa setempat. Setelah ayahnya meninggal, Rejeki menghuni rumah ayahnya itu, hingga sekarang bersama anak dan 5 cucunya.

Namun dalam ingatannya, banjir yang dialaminya waktu kecil dengan beberapa tahun belakangan ini berbeda. “Dulu banjir paling tinggi cuma satu meter. Sekarang sampai rata-rata 2 meter, sehingga terpaksa mengungsi,” kata Rejeki, dikutip Surya.

 

Selama musim penghujan pada setiap tahunnya, lanjut Rejeki, desanya bisa sampai 15 kali lebih dilanda banjir akibat air kiriman dari Wonosalam tersebut.

Meski sudah menjadi rutinitas setiap tahun, namun bagi Rejeki, banjir yang terus terjadi sampai saat ini, membuatnya selalu waswas jika musim penghujan datang.

“Sudah pasti setiap musim hujan datang kami selalu khawatir. Khawatir terhadap kehilangan harta benda, dan utamanya khawatir keselamatan keluarga,” katanya.

Keselamatan keluarga tak hanya terancam karena tenggelam atau hanyut oleh air banjir, namun juga bisa menjadi korban dari serangan hewan dan terjangan material yang terbawa air banjir.

“Karena dalam kondisi banjir, binatang membahayakan seperti ular, kelabang, kala jengking, lintah dan sebagainya yang b iasanya b erada di sawah, bisa ikut masuk rumah karena terbawa air banjir,” tutur Rejeki.

Itu sebabnya begitu air banjir mulai surut, dia segera kembali ke rumah. Dibantu anak dan menantu, dia segera melakukan bersih-bersih rumah.

Rejeki berharap pemerintah serius menangani banjir yang rutin melanda kampungnya. “Misalnya sungai dikeruk, diperdalam, sudah terlalu dangkal. Agar air sungai tak meluap,” harapnya.

 

Advertisement