Sepasang tanduk di kepala domba ibarat mahkota. Tanduk menjadi lambang “ketampanan” domba Garut. Nilai jual domba Garut pun bisa melambung tinggi ketika tanduknya berbentuk indah.
Keunikan dan keindahan bentuk tanduk akan mengundang decak kagum siapa pun yang melihatnya. Bahkan ada kontes khusus yang diselenggarakan untuk menilai keindahan tanduk domba Garut. Namun, tidak semua domba memiliki tanduk yang indah secara alami. Bahkan, tanduk indah pun bisa “rusak” atau bengkok karena pola dan perilaku tidur domba.
“Domba kan sering menyender di dinding kandang, jadi besar kemungkinan tanduknya bengkok atau tidak simetris,” ujar Engkus, perternak domba Garut di Subang, Jawa Barat kepada SwaraCinta akhir Juli lalu.
Itulah mengapa sejumlah peternak domba Garut menyiapkan “bengkel” untuk membentuk dan memperbaiki tanduk domba yang bengkok atau bentuknya tidak simetris. Orang Sunda menyebutnya dengdo. “Sedikit tanduk yang tumbuh indah secara alami, kebanyakan harus dibentuk seperti ini,” tambahnya saat menunjukkan bagaimana proses membentuk tanduk.
Membentuk atau memperbaiki tanduk memiliki keahlian khusus. Ade, rekan Engkus mengaku, ia baru berani melakukan sendiri setelah 7 tahun ikut mendampingi temannya membentuk tanduk domba Garut. Prosesnya membuthkan waktu sekira 2 jam. Semua peralatan masih sangat tradisional, seperti obor, gelang besi bertangkai (gogol), air dan handuk basah.
Kepada SwaraCinta Engkus dan Ade menunjukkan bagaimana cara memperbaiki tanduk domba yang bengkok di bengkelnya di kawasan Desa Cirangkong, Subang, Jawa Barat.

Pertama-tama, domba direbahkan ke tanah dan kepalanya diikat ke bambu yang menancap. Keempat kaki juga harus diikat seperti hendak disembelih. “Supaya tidak berontak,” kata Ade.
Setelah kambing tenang, tahap kedua adalah meletakkan handuk basah diatas kepala domba, terutama di sekitar leher dan kepala domba. Tujuannya agar doma tidak merasa kepanasan saat tanduk dipanasi dengan obor. Sesekali handuk disiram kembali untuk mendinginkan domba.
Ketiga, tanduk domba diolesi kecap manis dengan menggunakan kuas kecil. Penggunaan kecap agar tanduk yang dibakar tidak gosong. “Selain itu juga supaya tanduknya lebih cepat lentur saat dipanaskan,” jelas Ade.
Setelah itu, Ade menyalakan obor yang dibuatnya dengan bambu kecil. Api yang tidak terlalu besar itu kemudian ditempelkan ke tanduk yang sudah diolesi kecap. Sementara Engkus tetap memegang kepala domba dan sesekali menyiram handuk yang menutupi leher domba.
Setelah tanduk cukup panas dan lentur, Ade pun melanjutkan tahapan kelima. Ia mengambil besi berbentuk bulat namun memiliki gagang. Ia menyebutnya gogol. Dengan besi itu ia kemudian membentuk tanduk domba sesuai dengan keinginannya.
Setelah tanduk terbentuk sesuai dengan yang diharapkan, besi pengurut tidak dilepas terlebih dahulu. Ia menunggu sampai tanduk benar-benar dingin. Khawatirnya, tanduk akan kembali kebentuk semula. Untuk mempercepat pendinginan Ade kembali menyiramkan air ke tanduk yang sudah dibentuk.
Tanduk yang sudah dibentuk kemudian dibersihkan dan dihaluskan untuk membersihkan sisa-sisa pembakaran maupun kecap yang menempel. Setelah itu, ikatan domba dilepaskan dan diistirahatkan di depan kandangnya.
“Kalau bentuk tanduknya indah, harga jualnya bisa berlipat-lipat. Apalagi kalau sudah menang kontes,” tukasnya.





