Di Kampus Ini, Semua Lulusannya Jadi Pengusaha

Motivator Bisnis, Ippho Santosa saat memberikan pegnhargaan kepada lulusan terbaik Sekolah Bisnis Umar Usman, Sabtu (17/9/2016)

Ada yang berbeda dari acara wisuda di Auditorium RRI, Jalan Medan Merdeka Barat, Sabtu (17/9) lalu. Biasanya wisudawan hanya disebut nama dan indeks prestasi kumulatif (IPK). Namun, di acara tersebut, selain nama dan IPK, juga disebutkan jenis usaha yang dilakoni wisudawan.

Adalah Sekolah Tinggi Ilmu Bisnis Umar Usman yang menggelar hajatan wisuda tersebut. Acara yang digelar bersamaan dengan Dies Natalis yang ketiga tersebut, meluluskan 60 mahasiswa/i angkatan ketiga. “ Dewi Arianti, jenis usaha bengkel motor,” demikian MC  menyebut tiap mahasiswa yang dipanggil ke panggung saat dilantik.

Kampus yang dilahirkan atas inisiatif Dompet Dhuafa dan motivator bisni ternama, Ippho Santosa ini memang fokus mencetak calon-calon pengusaha baru. Slogannya pun cukup menantang, “Kuliah 1 Tahun Jadi Pengusaha.” Oleh karenanya, setiap lulusan kampus ini wajib menjadi pengusaha.

Rektor  STIB Umar Usman, Parni Hadi menyampaikan keunikan lain dari kampus ini. Jika lulusan kampus lain memiliki gelar sarjana, insinyur, ahli madya, atau yang lainyya, di kampus ini semua lulusannya begelar bos. Bahkan, sebelum lulus sekalipun, semua mahasiswa dipanggil bos. “Kalau fakultas kedokteran gelarnya dokter, ekonomi sarjana ekonomi. Ini, jelas, namanya siapa usahanya apa. Itu yang langka. Itu bedanya Umar Usman dengan perguruan tinggi lain,” ujar Parni saat memberikan pidato pelepasan wisuda.

Ia menambahkan, biasanya lulusan fakultas kedokteran akan ditanya praktik di mana, sarjana ekonomi kerja di mana. Tapi lulusan Umar Usman, yang ditanya adalah usahanya apa dan omsetnya berapa? “Hari ini kita saksikan, semua lulusan Umar Usman sudah memiliki usaha, mulai dari properti, kuliner, dan yang lainnya,” tukasnya.

Meski berjenjang setera dengan D1, yang kuliah di kampus ini bukan saja lulusan SMA. Justru banyak di antara mereka yang telah bergelar sarjana, atau bahkan tengah mengambil S2 di kampus lain. Terbukti 30% mahasiswanya adalah lulusan S1, bahkan ada S2 yang kuliah disini.

Diakui Wakil Rektor Umar Usman, Asep Hendriana, dengan menganut sistem “long life education”, siapa pun bisa belajar di kampus ini. “Tidak ada batasan usia,” tambahnya.

Asep juga merinci sejumlah kelebihan kampus ini dibanding kampus bisnis lainnya. Selain resmi dan memiliki ijazah yang diakui, komposisi materi belajar di kampus ini terdiri dari 30 % teori dan 70 % praktik. Kampus ini juga menggaransi semua lulusannya menjadi pengusaha. “Kami akan memonitor semua lulusan Umar Usman apakah bisnisnya lancar atau tidak,” tegasnya.

Di sisi lain, mahasiswa Umar Usman ditekankan tidak sekedar mengejar profit semata dalam menjalankan bisnisnya. Sebagaimana disampaikan Parni Hadi dalam acara wisuda tersebut, pengusaha-pengusaha lulusan Umar Usman harus berorientasi pada benefit atau manfaat. “Jadi dengan mengejar profit untk bisa terus berbagi kepada sesama,” tambahnya.

Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa ini juga menegaskan, agar para “bos” ini meniru cara bisnis Rasulullah, Muhammad SAW. Parni mengenalkan istilah Profetik Socio-Teknopreneurship, yaitu kewirausahaan yang menggunakan tekologi modern, berjiwa sosial, dan mengacu pada Nabi Muhammad. “Jadi berbisnis harus jujur seperti Nabi,” tegasnya.

 

 

 

Advertisement