JAKARTA – Udara dingin tanah priangan terasa adem menyentuh kulit.Di bawah naungan kanopi toko terlihat Yayat duduk berhadap-hadapan dengan dagangannya. wajahnya tampak klelahan, namun ia tak cepat menyerah kendati hanya satu dua orang yang mendekat. Bagi kakek berusia 100 tahun itu, berjualan merupakan jalan satu-satunya guna melawan kerasnya kehidupan.
Setiap hari Yayat menggelar dagangannya di emper toko di daerah Rencong, Jalan Raya Banjaran, Bandung. Tak jarang Yayat tertidur karena letih ditambah tak adanya pembeli.Semangat Yayat untuk memuliakan diri ternyata diabadikan oleh netizen bernama Sucahyo Aja. Ia berkisah dalam akun facebooknya bahwa saat ditemui Yayat tengah tertidur sambil menunggu barang dagangannya.
“Saya awalnya mau antar istri ke Borma, saya melihat ada kakek tua dengan dagangannya yang begitu sederhana sedang tertidur. Kakek berjualan camilan ringan, seperti rengginang dan kripik,” Tulis Sucahyo dalam postingannya.
Setelah melakukan perbincangan dengan YAyat, Sucahyo bercerita bahwa sejak pagi buta Yayat sudah harus meninggalkan rumah dan baru bisa kembali jelang magrib.Di Bandung Yayat tinggal bersama istri yang usianya 90 tahun.Melalui Sucahyo, Yayat mengatakan bahwa ia tak mau merepotkan orang lain selama dirinya masih kuat berdagang.
“Masih kuat bedagang dari pada minta-minta,” ucap Yayat kepada Sucahayo.
Dalam sehari pendapatan Yayat tak banyak, ia hanya bisa membawa pulang uang sekitar Rp 30-50 ribu belum dipotong ongkos angkot dan ojek.Karena letak rumah Yayat yang sedikit berada di pelosok Sindanng Panon, Banjaran tak jarang dirinya kehujanan dan basah kuyup.
Menurut pengakuan Yayat, ia memiliki anak tapi bekerja di Arab Saudi dan jarang pulang.
“Sekarang abah Yayat tinggal bersama istrinya, alhamdulilah sehat tetapi sehat orang tua. yuk kita larisi dagangan abah, murah kok hanya Rp 10 ribuper tiga bungkus,” jelas Sucahyo.





