MOSKOW (KBK) – Berdasarkan bukti baru, Rusia menduga adanya kemungkinan serangan teroris di balik kecelakaan pesawat penumpang Rusia yang jatuh di Mesir, beberapa waktu lalu.
“Kemungkinan aksi teroris di balik jatuhnya pesawat,” kata Perdana Menteri Dmitry Medvedev seperti diberitakan Harian Rossiyskaya Rabu, (11/11/2015).
Pesawat Metrojet Airbus A321 milik Rusia ini dalam perjalanan menuju Rusia, jatuh pada 31 Oktober setelah lepas landas dari Laut Merah Mesir, Sharm el-Sheikh, menewaskan semua penumpang yang berjumlah 224 orang termasuk awaknya. Korban sebagian besar warga Rusia.
Presiden Vladimir Putin pada hari Jumat memerintahkan penghentian semua jadwal penerbangan negara itu ke Mesir, di tengah meningkatnya spekulasi bahwa serangan teroris yang mungkin berada di balik bencana tersebut.
Sebelum melakukan pelarangan, Putin mengadakan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron atas kecelakaan itu.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengakui Senin (9/11/2015) bahwa London telah menyerahkan beberapa bukti yang berkaitan dengan kecelakaan itu, tetapi menolak untuk mengungkapkannya secara rinci.
Laporan media-media Barat mengungkapkan teori, bahwa pesawat itu dijatuhkan sebuah bom yang ditaruh oleh teroris didalam pesawat, sebagai pembalasan atas operasi militer yang dilangsungkan Rusia terhadap Negara Islam (IS) di Suriah.
Pada hari Selasa, jaringan TV AS CBC News mengutip sumber-sumber intelijen AS yang mengatakan bahwa Amerika Serikat mendapat informasi, bahwa IS memiliki orang dalam di bandara di Sharm el-Sheikh.
Beberapa analis Rusia juga percaya bahwa kecelakaan itu adalah hasil dari serangan teroris.
“Kami tidak ragu bahwa itu adalah serangan teroris. Pertanyaannya adalah apa jenis bahan peledak yang telah digunakan, dan bagaimana ia dibawa ke pesawat,” kata Yevgeny Satanovsky, Presiden dari Institute Rusia untuk Studi Timur Tengah, kepada Xinhua.




