JAKARTA – Nining Ayu Wulandari (22) penyandang autis asal Desa Rayungkusuman, Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah harus dikurung di rumahnya yang mau roboh. Hal itu terjadi karena sang gadis tak ada yang menunggu saat ditinggal kakaknya, Sri Handayani (35) kerja sebagai buruh rongsok.
Nining terdengar beberapa kali tertawa, kemudian menangis. Sesaat kemudian, Sri pulang pada jam istirahat.
“Adik saya (Nining) memang sejak lahir begitu (autis). Tidak bisa diajak komunikasi. Hanya tertawa dan menangis,” cerita Sri Handayani.
Sri merawat adiknya itu sendirian setelah ibunya, Saroh meninggal dunia tahun 2015. Sedangkan bapaknya, Sastro Witono meninggalkan rumah 30 tahun yang lalu, hingga kini sama sekali tidak pernah menengok keluarganya.
Di rumah yang mau roboh, ia biasa tinggalkan Nining sendirian sejak pukul 08.00 WIB sampai 16.00 WIB. Hanya suara radio yang menemani Nining saat Sri bekerja.
“Kalau saya kerja saya putarkan radio dan saya kunci semua pintu. Kalau tidak ada radio biasanya marah,” papar Sri yang masih melajang.
Upah kerja yang diterima Sri Rp 27 ribu per hari, diterimak tiap minggu.Uang tersebut hanya cukup untuk biaya makan. Tiap hari, Ia memberi makan dan memandikan adiknya sebelum berangkat kerja. Selama ini, Sri mengaku belum mendapatkan bantuan dari pemerintah.
“Begitu tiap hari. Saya merawatnya semampu saya. Tidak pernah ada bantuan. Saya hanya punya kartu indonesia sehat (KIS),” tuturnya.




