Dirut Kok Maunya Gratisan

Pesawat Garuda yang baru dibeli dari Prancis langsung masuk hanggar. Ee, nggak tahunya.....

DEMEN yang gratis, agaknya sudah menjadi naluri setiap manusia. Meski punya kekayaan puluhan miliar, jika ditawari hal yang serba gratis mau juga, bahkan ada yang berusaha untuk mendapatkannya. Dia sudah tidak peduli akan pangkatnya lagi, tak peduli bahwa sikap itu bisa menurunkan derajat dan kehormatannya. Bahkan menghilangkannya.

Dulu ada ada mantan mentri Orde Baru yang minta diistimewakan, ketika memasuki daerah wisata. Meski hanya sekedar biaya retribusi Rp 1.000,- Pak Menteri malas merogoh koceknya. Begitu sang menteri membuka kaca mobilnya, petugas langsung terpekik, “Ee, Pak Menteri……” dan sang menteri pun diloloskan masuk meski tanpa bayar retribusi yang hanya Rp 1.000.- itu.

Apakah mental seperti ini warisan para sesepuh dan pendahulu kita? Di awal-awal kemerdekaan Bung Karno sempat dibuat bingung, rakyat naik bis dan kereta api ada yang protes ketika ditarik karcis oleh kondektur. “Masak, sudah jadi bangsa merdeka, naik bis dan kereta api bangsa sendiri kok masih bayar?” begitu keluh rakyat. Mereka lupa bahwa kendaraan umum itu perlu bahan bakar, perawatan, dan ongkos untuk yang mengemudikan.

Sekarang, karakter buruk itu menimpa orang nomer satu di maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Namanya Ari Askhara, yang gajinya miliaran sebulan dan asset milikknya lebih dari Rp 37,5 miliar. Giliran ingin membawa barang mewah miliknya dari Prancis ke Indonsia, dia mencari gratisan, tidak malalui prosedur kepabeanan alias diselundupkan. Mungkin pertimbangannya, ketimbang pesawat  Paris –Jakarta itu ngglondhang (tanpa muatan).

Sejak 2018 beliaunya sudah pesan moge antik Harley Davidson ‘70  dan sepedamewah Brompton seharga Rp 50 juta. Dan pada 17 Nopember lalu barang-barang tersebut dikirim ke Indonesia numpang pesawat Garuda A330-900 yang baru saja dibeli dari Prancis. Dalam pemeriksaan kepabeanan, ternyata barang-barang tersebut tak melalui prosedur resmi, sehingga masuk kategori penyelundupan.

Barang tersebut tak hanya melulu milik Dirut, tapi juga pejabat Garuda yang lain. Kementerian Keuangan mengklaim, kerugian negara mencapai Rp 1,5 miliar gara-gara ada pejabat negara yang tidak taat azas itu. Menteri BUMN Erick Tohir sempat mengancam, agar para pejabat Garuda yang terlibat penyelundupan ini segera mengundurkan diri. Tapi tak juga direspon, bahkan klarifikasi dari menejemen Garuda menyatakan bahwa berita yang beredar selama ini tidak benar adanya.

Erick Tohir pun akhirnya benar-benar mencopot Dirut Garuda itu. Tapi tak hanya berhenti sampai di situ. Sejumlah pejabat Garuda yang terlibat penyelundupan tersebut juga terkena sanksi yang sama. Ironis memang, maunya cari yang gratis, malah berakhir tragis.

Dari 142 BUMN di Indonesia, Garuda adalah termasuk BUMN yang kondisinya tidak menggembirakan, tiap tahun rugi melulu. Tahun 2018 misalnya, kerugian itu mencapai Rp 2,45 triliun. Belum jelas yang tahun ini. Tapi itulah ironisnya, ketika keuangan perusahaan berdarah-darah, direksinya bawa barang saja maunya gratis.

Baik tidaknya seorang pimpinan kantor, lihatlah reaksi karyawan ketika dia diberhentikan. Jika mereka meratapi, berarti bagus cara dia memimpin. Tapi jika dianya dicopot karyawan malah bergembira dan ada yang syukuran, berarti dia dibenci pegawainya. Maka berlakulah pepatah lama: raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah.

Ternyata nasib Ari Askhara merujuk ke alternatip kedua. Sampai-sampai karyawan kirim karangan bunga ke Menteri BUMN Erick Tohir sebagai ucapan terima kasih atas pencopotan Dirut yang baru menjabat 14 bulan itu. Karyawan mengakui, selama Ari berkuasa, mereka diminta ngirit dengan gaji kecil, padahal boss sendiri gajinya miliaran.

Banyak ditemukan sisi buruk kepemimipinannya. Yang paling aneh, Ari Askhara sempat manipulasi laporan keuangan Garuda. Sebetulnya merugi tapi dibilang untung, karena ekspansi usaha untuk sekian tahun ke depan dianggap sebagai keuntungan nyata, padahal baru prediksi. Namun demikian sang Dirut tak juga ditindak. Ke mana saja Menteri BUMN Rini Sumarno? (Cantrik Metaram)

 

Advertisement