DKI Memasyarakatkan Sepeda

Jalur sepeda Jl. Thamrin-Sudirman, terancam dibongkar Kapolri.

MENHAN Prabowo jadi sorotan karena berencana borong alutsista (alat utama sistem persenjataan) sampai Rp 1.670 triliun. Tapi Anies Baswedan mantan Mendikbud yang kini jadi Gubernur DKI Jakarta, justru sibuk memikirkan alat utama sistem transportasi yang anggarannya cukup Rp 30 miliar saja. Meski dananya “murah-meriah”, gaungnya tetap sama, jadi sorotan publik sampai Kapolri Listyo Sigit Prabowo pun ikut-ikutan seperti penyanyi Iwan Fals, “Bongkar, oo ya’o…. bongkarrrr!”

Gubernur Anies Baswedan pernah mengatakan bahwa alat utama sistem transportasi manusia itu adalah kaki. Betul sekali! Sebab Nabi Adam ketika hendak menemui Siti Hawa di Jabal Rahmah juga jalan kaki saja. Dunia semakin maju, alat utama sistem transportasi itu meningkat jadi perahu atau kapal oleh Nabi Nuh. Makin ke sini lagi di abad 18, sistem transportasi itu berubah ke kuda, sehingga Pangeran Diponegoro pun berperang melawan Belanda dengan berkuda (1825-1830).

Masih di abad ke-18, alat utama sistem transportasi meningkat dengan ditemukannya sepeda (1818), sepeda motor (1868), mobil (1886), kereta api (1804) dan pesawat terbang (1904) pada abad ke-19. Konsekuensinya, ketika sepeda motor, mobil, kapal, KA dan pesawat BBM-nya belum bisa diganti dengan wedang jahe, polusi terjadi di mana-mana. Jakarta misalnya, pada Agustus 2019 pernah dicatat oleh Air Visual sebagai kota paling tinggi polusinya di dunia.

Karena itulah Gubernur Anies tergerak hatinya untuk mengatasi polusi tersebut dengan sepeda sebagai alat utama sistem transportasi di Jakarta. Bila Pak Harto dulu punya motto memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat, maka kini Gubernur Anies juga ingin merakyatkan sepeda, dan menyepedakan masyarakat! Dengan sepeda rakyat Jakarta menjadi sehat, karena selalu berkeringat. Soal badan menjadi bau setelah tiba di kantor, bukankah masih ada Odorono?

Ya, memang Gubernur Anies menginginkan, orang pergi dan pulang dari kantor cukup naik sepeda saja. Dia ingin Jakarta menjadi kota sepeda, seperti Yogyakarta tahun 1960-an, atau Amsterdam Negeri Belanda sekarang ini. Sepeda bukan saja alat olahraga dan rekreasi, tapi transportasi! Bila program ini berhasil, Jakarta akan memiliki langit biru, sehingga dinikmati bintang kecil yang amat banyak menghias angkasa, sehingga penduduk Ibukota pun ingin terbang dan menari!

Anies tak sekedar bicara, tapi langsung kerja, kerja, kerja…..! Dia lalu mengusulkan kepada Kementrian PUPR agar sepeda dibolehkan masuk tol dalam kota. Meski hanya satu jalur dan itu pun di hari libur, Menteri PUPR Basuki Hadimulyono menolaknya. Sebab berdasarkan UU No. 38/2004 tentang Jalan, jalan tol hanya diperuntukkan kendaraan roda empat atau lebih (pasal 53 ayat 1).

Karena ditolak, dia lalu membangun jalur sepeda khusus di jalan protokol Sudirman – MH. Thamrin sepanjang 11,2 Km. Bersamaan dengan itu jalan layang non tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang, sejak Mei diperbolehkan untuk pesepeda jenis road bike. Ini sungguh kebijakan aneh. Yang sepeda motor saja tak diperbolehkan, kok sepeda malah diizinkan. Tapi begitulah kontroversi-kontroversi baru selalu diciptakannya.

Akan halnya jalur sepeda permanen, Gubernur Anies telah menyisihkan dana sebesar Rp 28 miliar, termasuk monumen sepeda yang ditanggung swasta (CSR) sebanyak Rp 800 juta. Demi memasyaratkan sepeda, setiap kantor diminta menyisihkan ruangan untuk parkir sepeda, juga kamar bilas bilamana karyawan mandi keringat karena ngantor pakai sepeda. Karenanya bawa sepeda ke dalam LRT dan MRT diperbolehkan.

Jalur sepeda di DKI Jakarta kini baru terbangun sepanjang 63 KM dari target 170 Km sampai akhir tahun. Bahkan Gubernur Anies membayangkan, Jakarta idealnya punya jalur sepeda sepanjang 500 Km, tapi dia optimis akan tercapai sampai tahun 2030 nanti. Pertanyaannya, apakah gubernur penerusnya mau melanjutkan, sedangkan Anies akan mengakhiri masa jabatannya pada Oktober 2022 mendatang.

Ternyata jalur sepeda hanya menyenangkan sekelompok orang. Polisi sendiri jadi repot, karena kendaraan jadi menumpuk gara-gara sebagian areal jalan tersita untuk jalur sepeda. Makanya setiap hari Senin polisi terpaksa merekayasa lalulintas, menggeser pembatas jalur (cone). Dan pada Maret lalu terjadi insiden, pesepeda keluar jalur di Bunderan HI disikat mobil Mercy. Untung saja tak sampai wasalam.

Karenanya DPR pun bersuara, lewat Nasdem di Komisi III. Ahmad Syahroni menilai jalur sepeda Jl. Thamrin-Sudirman bisa menciptakan kecemburan bagi pengendar sepeda motor, bisa saja dia nanti minta jalur khusus pula. Karenanya politisi Nasdem tersebut minta Kapolri untuk mengevaluasinya.

Gayungpun bersambut. Kapolri Listyo Sigit Prabowo menerima usulan tersebut. Setelah melalui studi perbandingan di luar negeri, pihaknya akan membongkar jalur sepeda yang bikin macet itu. Mendengar tekad Kapolri, Wagub DKI Ariza hanya bisa pasrah, membayangkan dana Rp 28 miliar hilang sia-sia. Sedangkan di luar Senayan, penyanyi Iwan Fals nampak bersenandang, “Bongkar, ya’o ya’o……bongkar!” (Cantrik Metaram)

Advertisement