Dokter Anak Ungkap Cara Putus Mata Rantai Penularan Penyakit Berbahaya

Petugas kesehatan memberikan vaksin polio dan campak kepada anak balita saat imunisasi di Pos Yandu Harapan Ibu, Kampong Laksana, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Aceh, Rabu (4/11/2020). (Foto: ANTARA/Ampelsa)

JAKARTA – Dokter spesialis anak dari Universitas Indonesia, dr. Anton Dharma Saputra Sp.A, mengungkapkan bahwa imunisasi dapat memutus rantai penularan penyakit berbahaya dan menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity. Dengan melakukan imunisasi, kata Anton, kita dapat melindungi orang lain karena penularan penyakit dapat dicegah dengan meningkatkan cakupan imunisasi.

Namun, realitanya masih terdapat fakta bahwa satu dari lima anak di seluruh dunia belum mendapatkan vaksin. Dan, setiap 20 detik, seorang anak meninggal dunia karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah melalui imunisasi, menurut data WHO.

Berbagai penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi antara lain kanker hati, TBC paru, tetanus, difteri, polio, campak, pertusis atau batuk rejan, rubela, dan radang selaput otak.

Di Indonesia, terdapat 506 kasus anak dan dewasa yang terkena penyakit tetanus, dimana 5% atau 25 kasus di antaranya terjadi pada bayi baru lahir, menurut laporan WHO tahun 2017. Namun, angka kematian akibat tetanus telah menurun setelah vaksinasi tetanus toksoid dilakukan pada ibu hamil.

Pertusis atau batuk rejan juga masih menjadi ancaman global bagi anak-anak. Pada tahun 2015, tercatat ada 24 juta kasus pertusis di luar negeri, dan 142 ribu di antaranya berujung pada kematian. Selain itu, penyakit kulit kuning akibat virus hepatitis B masih menyebabkan sekitar 7,1% atau 18 juta kasus di dunia.

Hepatitis B dapat ditularkan dari ibu kepada anak saat melahirkan dan dapat menyebabkan hepatitis kronis hingga kanker hati pada bayi yang terpapar hepatitis B dari ibunya, dengan tingkat risiko sekitar 60-90%.

Anton mengatakan bahwa cara kerja imunisasi adalah dengan memberikan tubuh vaksinasi berupa bakteri atau virus yang dilemahkan. Hal ini bertujuan agar tubuh mengenali kuman tersebut dan membentuk sistem imun atau antibodi.

“Antibodi ini akan mengenali kuman atau virus tersebut dan melindungi tubuh ketika terpapar di kemudian hari,” katanya.

Pemerintah telah menambahkan beberapa imunisasi wajib dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) terbaru tahun 2023. Imunisasi ini mencakup imunisasi PCV pertama pada usia dua bulan untuk mencegah pneumonia, tambahan PCV kedua dan imunisasi campak rubella pada usia tiga bulan, serta rotavirus pada usia sembilan bulan.

Polio adalah salah satu penyakit lain yang bisa dicegah melalui imunisasi. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan dan dapat dicegah dengan pemberian vaksin polio melalui tetes dan suntik.

Anton juga menjelaskan bahwa sekitar 72 persen penderita polio tidak menunjukkan gejala, namun mereka dapat menjadi agen penularan.

Sekitar 24 persen penderita hanya mengalami gejala selesma atau common cold biasa, sedangkan sisanya, satu persen, dapat mengalami kelumpuhan yang bersifat permanen di lengan atau tungkai.

Dari yang lumpuh, dua hingga 10 persen diantaranya dapat meninggal karena menyerang otot pernapasan. Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan polio.

Anton menekankan bahwa pencegahan polio dilakukan melalui pemberian vaksin tetes sebanyak 4 dosis dan 2 dosis vaksin polio melalui suntik, diberikan pada usia 4 dan 9 bulan.

Selain itu, menjaga kebersihan seperti mencuci tangan dengan benar setelah menggunakan toilet, serta memastikan makanan dimasak dengan baik dan air yang digunakan bersih juga penting untuk pencegahan.

Program imunisasi tidak hanya diberikan pada saat bayi, tetapi juga berlanjut hingga anak-anak masuk usia sekolah dasar melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). BIAS diadakan pada bulan Agustus untuk imunisasi MR (measles rubella) dan pada bulan November untuk imunisasi difteri.

Advertisement