Dolar AS Terpuruk ke Titik Terendah Empat Tahun, Pasar Cemas Arah Kebijakan Trump

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus berada di bawah tekanan dan kini menyentuh level terendah dalam hampir empat tahun terakhir. (Foto: Pixabay)

Jakarta, KBKNews.id – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus berada di bawah tekanan dan kini menyentuh level terendah dalam hampir empat tahun terakhir. Pelemahan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan sikap terbukanya terhadap depresiasi dolar, yang langsung ditafsirkan pasar sebagai sinyal perubahan arah kebijakan.

Saat ditanya mengenai kekhawatirannya terhadap pelemahan mata uang AS, Trump justru menilai kondisi tersebut tidak bermasalah.

“Menurut saya ini bagus. Lihat saja aktivitas bisnis yang kami lakukan. Dolar dalam kondisi baik,” ujar Trump, dikutip dari Bloomberg, Rabu (28/1/2026).

Pernyataan tersebut memperpanjang tekanan terhadap dolar yang sebelumnya sudah melemah cukup dalam sejak kebijakan tarif Trump kembali memicu volatilitas pasar global. Investor kini menilai sikap Gedung Putih membuka ruang lebih besar bagi depresiasi lanjutan mata uang AS.

Indeks Dolar Sentuh Level Terendah Sejak 2022

Usai komentar Trump, Bloomberg Dollar Spot Index sempat memperdalam penurunan hingga 1,2%, mencerminkan pelemahan dolar terhadap seluruh mata uang utama dunia. Meski pergerakannya sedikit mereda pada perdagangan Asia, tren tekanan masih terasa kuat.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 11.20 WIB, indeks dolar AS tercatat turun tipis 0,1 poin atau 0,1% ke level 96,11, posisi terendah sejak awal 2022.

Pasar menilai pernyataan Trump sebagai lampu hijau bagi pelaku pasar untuk melepas dolar, terlebih di tengah ketidakpastian arah kebijakan ekonomi AS ke depan.

Dolar Lemah Dinilai Sejalan dengan Agenda Ekspor

Selama ini, Trump dikenal kerap menuduh negara lain sengaja melemahkan mata uang mereka demi memperkuat daya saing ekspor. Namun, pernyataannya kali ini justru dipandang sejalan dengan keinginan sebagian kabinetnya.

“Banyak pihak di pemerintahan Trump memang menginginkan dolar yang lebih lemah agar ekspor AS lebih kompetitif,” kata Win Thin, Kepala Ekonom Bank of Nassau.

Meski demikian, Thin mengingatkan pelemahan mata uang merupakan strategi yang berisiko jika tidak dikendalikan dengan baik.

“Mata uang yang lebih lemah memang bisa menguntungkan, sampai titik di mana situasinya menjadi tidak terkendali,” ujarnya.

Yen Menguat, Tekanan Dolar Kian Besar

Pelemahan dolar juga dipengaruhi oleh penguatan yen Jepang secara tiba-tiba sejak pekan lalu. Penguatan tersebut dipicu spekulasi otoritas Jepang berpotensi melakukan intervensi untuk menopang mata uangnya.

Di luar faktor teknikal, tekanan terhadap dolar semakin besar akibat kebijakan Trump yang dinilai sulit diprediksi. Mulai dari wacana pengambilalihan Greenland, sikap terhadap independensi Federal Reserve, pemotongan pajak yang memperlebar defisit, hingga gaya kepemimpinan yang memperdalam polarisasi politik AS. Semuanya itu dinilai menggerus kepercayaan investor global.

Anomali Pasar: Imbal Hasil Naik, Dolar Justru Turun

Menariknya, pelemahan dolar terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan ekspektasi The Fed akan menahan laju pemangkasan suku bunga. Secara historis, dua faktor tersebut biasanya menopang nilai tukar dolar.

Namun, sikap Trump yang secara terbuka menginginkan suku bunga jauh lebih rendah justru dinilai pasar berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang AS.

Kondisi ini mendorong investor mengalihkan dana ke aset lindung nilai seperti emas, yang harganya melonjak ke rekor tertinggi. Arus modal juga mengalir ke pasar negara berkembang dan aset berisiko lainnya, dalam fenomena yang dikenal sebagai debasement trade.

Taruhan Pasar: Dolar Masih Rentan Melemah

Sejak pelantikan Trump, indikator dolar versi Bloomberg tercatat sudah turun hampir 10%. Pelaku pasar masih memasang posisi yang mengantisipasi pelemahan lanjutan.

Data Bloomberg menunjukkan premi opsi jangka pendek yang diuntungkan dari penurunan dolar kini berada di level tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2011. Ekspektasi penguatan mata uang lain juga mendekati posisi tertinggi sejak pasca-pengumuman tarif pada April lalu.

Lonjakan volatilitas turut tercermin dari volume transaksi. Pada Senin, nilai transaksi yang diproses Depository Trust & Clearing Corporation mencatat rekor tertinggi kedua sepanjang sejarah.

Trump Klaim Bisa Kendalikan Dolar

Pada Selasa, Trump bahkan menyiratkan dirinya mampu memengaruhi pergerakan dolar secara langsung.

Ia mengatakan nilai dolar bisa dinaikkan atau diturunkan “seperti yo-yo”, meski mengakui kondisi tersebut bukan situasi ideal. Dalam pernyataannya, Trump kembali menyoroti praktik negara-negara Asia yang dinilainya kerap berupaya mendevaluasi mata uang.

“Yen dan yuan selalu ingin didevaluasi. Itu tidak adil karena membuat persaingan menjadi sulit,” kata Trump.

Dengan kombinasi faktor kebijakan, geopolitik, dan pergeseran preferensi investor global, tekanan terhadap dolar AS diperkirakan masih akan menjadi perhatian utama pasar dalam waktu dekat.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here