
“TIDAK ada lawan atau teman yang abadi, kecuali kepentingan” demikian bunyi adagium lawas yang agaknya cocok untuk mengiaskan hubungan tetangga dan bangsa serumpun, sekaligus seteru bebuyutan, Korea Utara dan Korea Selatan.
Kedua negara, Jumat lalu (16/9) sepakat membuka kantor perwakilan bersama di dekat perbatasan di Kaisong, Korut yang diharapkan menjadi simbul perdamaian di Semenanjung Korea dan saluran komunikasi permanen sebagai bagian upaya guna mengakhiri permusuhan mereka.
Menteri Unifikasi Korsel Cho Myoung-gion menilai, pertemuan bersama tersebut membuka lembaran baru sejarah, sedangkan mitranya, Kepala Delegasi Korut Ri Son Gwon yang menanggapi dengan nada optmistis menyebutkan momen itu sebagai buah substansial yang telah dipelihara oleh warga kedua negara.
Sejak Perang Korea yang berkecamuk dari 1950 sampai 1953, bermula dari invasi Korut didukung Rusia dan Cina yang kemudian direspons dan dipukul balik oleh koalisi kekuatan Barat pimpinan Amerika Serikat di bawah bendera PBB, kedua negara tidak pernah akur.
Bahkan sampai ini hari status perang juga belum dicabut dan keduanya terus terlibat dalam suasana permusuhan diwarnai aksi propaganda, saling hujat dan saling ancam.
Korut yang terisolasi dari pergaulan internasional dan berada dalam keterbataan ekonomi karena sanksi embargo PBB terus mengembangkan bom nuklir dan melakukan ujicoba rudal balistik yang diklaim mampu menjangkau dan memusnahkan tetangganya, Korsel, Jepang bahkan pantai timur AS.
Sebaliknya Korsel yang tampil sebagai kekuatan ekonomi raksasa di Asia bahkan juga dunia terus melindungi diri dengan sistem pertahanan canggih buatan AS seperti rudal anti rudal Patriot dan THAAD (Terminal High Altitude Area Defence atau Sistem Pertahanan di Area Tinggi) yang menggunakan benturan energi kinetik terhadap sasaran bergerak sebelum memasuki atmosfir.
Hawa perang tiba-tiba berubah pasca keikutsertaan kontingen kesenian dan olahraga Korut dalam olimpiade musim dingin di PyeongChang Korsel Februari lalu disambung dengan saling tukar delegasi tingkat tinggi dan tim kesenian.
Proses perdamaian semakin berpendar saat Presiden Korut Kim Jong Un dan Presiden Korsel Mon Jae-in untuk pertama kalinya bertemu di kawasan bebas militer Panmunjom, 27 April, kemudian di Pulau Santosa, Singapura, 12 Juni yang juga diikuti Presiden Donald Trump.
Presiden Kim dan Presiden Mon, kemungkinan juga Presiden Trump dijadwalkan akan bertemu untuk ketiga kalinya di Pyongyang untuk membahas lebih rinci denuklirisasi di Semenjang Korea seperti tolak ukur, kriteria dan cara mewujudkannya.
Negara-negara yang cinta damai termasuk RI, berharap agar perdamaian segera terwujud di anak benua tersebut. (AFP/Reuter/NS)




