Ekonomi: Masih Minus, Tapi Membaik

Walau pun masih minus atau mengalami kontraksi 0,74 persen pada kuartal I, 2021, pertumbuhan ekonomi nasional sudah membaik dibandingkan sebelumnya yakni minus 2,19 persen pada kwartal IV, 2020.

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia di tengah pandemi Covid-19 pada kuartal I 2021 masih mengalami kontraksi atau mengalami pertumbuhan negatif (- 0,74 persen), namun sudah jauh membaik dibandingkan  kondisi pada kuartal IV 2020   yakni – 2,19 persen.

Meningkatnya belanja pemerintah dan membaiknya kinerja ekspor selama kuartal I, 2021 memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional sehingga terhindar dari resesi ekonomi lebih dalam akibat pandemi Covid-19.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Produk Domestik Bruto (PDB)  atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat Rp3.969,1 triliun,  sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat Rp2.683,1 triliun sehingga  pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi  (minus) 0,74 persen (year on year – yoy), ungkap Kepala BPS Suhariyanto (5/5).

Sebelumnya, pada kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi masih positif yakni  dan mulai mengalami kontraksi pada kuartal II, 2020 menjadi minus (-5,32 persen), minus (–3,49) persen pada kuartal II, ­– 3,49 persen kuartal III dan – 2,19 persen pada kuartal IV, 2020.

Presiden Jokowi sendiri menyampaikan optimismenya untuk mencapai pertumbuhan eonomi sebesar tujuh persen pada kuartal II, 2021 jika pandemi Covid-19 bisa diatasi.

Hal senada juga dilontarkan Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengacu pada realisasi PDB harga konstan pada kwartal II, 2020, sementara pada kwartal I, 2021 mencapai Rp2.703 triliun atau terjadi lonjakan empat persen.

Hal itu yang membangkitkan optimisme pemerintah, pertumbuhan ekonomi berkisar antara 6,9 sampai 7,8 persen pada kwartal II, 2021 bisa dicapai.

Diharapkan Tumbuh Positif

Pada kwartal II, ‘21, diproyeksikan seluruh komponen tumbuh positif, seperti konsumsi rumah tangga antara 6,9 sampai 7,9 persen, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga antara lima sampai 5,5 persen, konsumsi pemerintah 7,6 sampai 7,9 persen, investasi 6,4 sampai 8,3 persen, ekspor 10,5 sampai 12 persen serta impor  9,5 sampai 14 persen.

Yang  juga menggembirakan adalah tingkat kepuasan publik  terhadap pemerintahan Presiden Jokowi, yang menurut survei Litbang Kompas, April lalu, mencapai 69 persen atau naik dari 66,3 persen pada Januari  2020 dan 65, 9persen pada Agustus 2020.

Namun yang bisa membuat optimisme berantakan yakni ancaman lonjakan penyebaran Covid-19 akibat dilanggarnya larangan mudik, pengabaian prokes di tengah suasana Idul Fitri termasuk ritual keagamaaan dan budaya masyarakat.

Munculnya kluster-kluster shalat berjamaah (tarawih dan shalat Ied), halal bihalal, belanja, mudik menjelang dan arus balik pasca lebaran bisa memporak-porandakan target-target yang hendak dicapai.

Demi keselamatan dan kemaslahatan diri, keluarga dan bangsa, mari kita patuhi prokes 5M dan juga larangan mudik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement