Elang Emas TNI-AU Jatuh

Pesawat latih dan tempur ringan Golden Eagle T50i TNI-AU jatuh di Desa Nginggil, Kec. Kradenan, Blora, Jateng, Senin malam (18/7). Pilotnya Lettu Pnb. Allan Safitra Indra gugur dan dimakamkan di TPU Taman Indah, Bekasi (19/7)

BERITA musibah datang dari TNI-AU tentang jatuhnya pesawat latih lanjutan (advance traiing) yang bisa juga digunakan sebagai pesawat tempur ringan “Golden Eagle” T50i.

Pesawat nahas bernomor ekor TT-5009 yang diterbangkan oleh Lettu Pnb. Allan Safitra Indra, menurut Kadispen TNI-AU Marsma Indan G. Buldansyah, hilang kontak sebelum jatuh di Desa Nginggil, Kec. Kradenan, Bora, Jawaa Tengah Senin malam. Pilot alm. Lettu. Pnb. Allan dimakamkan di TPU Bekasi, Selasa (19/07).

Sekitar satu jam setelah lepas landas dari Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur, sekitar pukul 18.24 WIB, pilot Lettu Pnb Allan Safitra Indera W sempat jalin kontak dengan komandan penerbangan  sebelum akhirnya hilang kontak sekitar pukul 19.24 WIB.

“Setelah itu posisi pesawat tidak dapat dikontak,” kata Marsma Indan.

Aparat keamanan dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi jatuhnya pesawat mengonfirmasi adanya serpihan logam yang diduga berkaitan dengan jatuhnya pesawat Skadron Udara 15 yang berpangkalan di Lanud Iswahjudi..

Dandim 0721/ Blora, Letnan Kolonel Infanteri Andy Soelistyo Kurniawan Putro bahkan memastikan ada korban gugur dalam musibah tersebut, kendati petugas belum dapat memastikan identitas  jasad yang ditemukan.

“Saya menyaksikan langsung di lapangan, jenasah sukar diidentifikasi karena pesawat meledak, “ tutur Andy saat ditemui wartawan di Balai Desa Nginggil, Selasa (19/7) dini hari.

Type T50i Golden Eagle yang ditenagai oleh mesin General Electric F404-GE-102 dengan daya dorong 17.700 pounds berkecepatan maksimal sampai  sekitar 1.5 Mach (1.600 Km)  per jam .

Golden Eagle T-50i mampu menanjak hingga ketinggian maksimal 55.000 kaki (16,76 km) dari permukaan tanah dan  dapat dilengkapi peralatan tempur dan radar sehingga bisa dioperasikan sebagai pesawat tempur ringan.

Sekilas, tampilan T-50i mirip pesawat tempur  F-16 Fighting Falcon buatan AS, Bedanya, dua lubang intake Golden Eagle T 50i di bawah sayap, tidak di perut pesawat seperti F-16. Kemiripan lainya, keduanya memiliki bubble canopy, wing, dan fuselage yang saling menyatu.

Sebagai pesawat tempur ringan, T-50i lincah, praktis dan mampu  mengangkut alutsista (kanon, roket, rudal dan bom) sampai lima ton untuk digunakan dalam misi multirole.

Pesawat ini dilengkapi kanon gatling internal tiga laras General Dynamics 20 mm yang mampu menyemburkan 2.000 peluru per menit yang ditempatkan di sisi kiri kokpit, tepat di leading edge extension pesawat.

Jika diperlukan, T-50i juga bisa dilengkapi rudal-rudal, roket dan bom yang dipasang di rakrak di bawah kedua sayapnya. Generasi keempat T-50i memiliki panjang 43 kaki (13,106 meter)  lebar sayap 31 kaki (9,448 meter), dan tinggi 16 kaki (4,87 meter).

TNI mengoperasikan 16 unit pesawat Golden Eagle T-50i buatan patungan AS dan Kosel itu sejak 2013.

Dengan musibah kali ini, kecelakaan pesawat T50i sudah terjadi tiga kali. Pertama pada 21 Des. 2015 saat pesawat bernomor ekor TI-5007 jatuh di langit Yogyakarta, menewaskan dua awaknya, lalu TT-5006 jatuh di Lanud Iswahyudi, menewaskan satu awaknya dan terakhir TT-5009 di langit Blora, Jateng, 18 Juli lalu menewaskan satu awaknya.

 

 

Advertisement