Elegi Minuman Berenergi

Ilustrasi, Salah seorang pasien cuci darah di RS. Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa / Taufan

Lebih dari setahun saya menjalani ini,  sejak dokter mengatakan kalau ginjal saya mengalami penurunan fungsi dan harus cuci darah rutin. Jadi ya begini yang harus saya jalani,” ungkap Arif Budiman (24), mahasiswa Universitas Pakuan, Bogor, yang kini merelakan cita-citanya.

 

Serasa tak tega diri ini melihat semua, mengulur waktu karena tak tega pun harus menjadi tabahan di list hari itu. Duduk dan mendengar cerita serta keluh kesah menjadi jalan utama menguatkan diri sebelum wawancara lebih lanjut. Bahkan saat melangkahkan kaki memasuki unit layanan hemodialisa di Rumah Sakit Rumah Sehat Terpadu (RST) di Parung, Bogor, jantung berdegup kencang. Ini kali pertama menginjakkan kaki di ruang hemodialisa atau yang akrab disebut dengan cuci darah. Lantunan ayat-ayat Al-Quran dan sayup-sayup suara mesin cuci darah menyusup di indera pendengaran kala itu.

Kegelisahan terpancar dari wajah pasien cuci darah. Sesekali ada yang tertidur saat menjalani rutinitas tersebut. Tak sedikit pula yang gelisah menjalani aktifitas tersebut. Penurunan fungsi ginjal dan harus menjalani cuci darah, kini membuat kehidupan para pasien , ketat dengan batas asupan ke dalam tubuh. Aktifitas pun juga demikian, tak seleluasa dulu. Tidak boleh terlalu lelah menjadi salah satu aturan utamanya.

Tersentak diri ini setelah empat dari tujuh pasien yang menjalani terapi adalah mereka yang berada dalam rentang usia produktif. Mereka masih layak membanting tulang untuk diri sendiri dan keluarganya. Namun kini harus merelakan hidup dan produktifitasnya menjalani cuci darah. Bahkan, tiga dari empat pasien di usia produktif tersebut harus menjalani cuci darah lantaran pilihan menempuh jalan pintas semasa sehatnya. Ya, jalan pintas tersebut berupa minuman suplemen berenergi.

Menjadikan suplemen berenergi sebagai konsumsi utama tanpa mengindahkan takaran dan anjuran penggunaannya. Sehingga membuat ginjal tiga pemuda tersebut mengalami penurunan fungsi, dan mengantarkan mereka ke ruangan ini.

Impiannya meraih gelar sarjana kini telah pupus. Di usia yang baru 24 tahun, Arif Budiman, harus meninggalkan bangku kuliah di penghujung masa studi di Universitas Pakuan, Bogor. Ya, semua itu lantaran Arif harus duduk di bangku mesin hemodialisa untuk menjalani cuci darah. “Sudah satu tahun saya menjalani ini, sejak dokter mengatakan kalau ginjal saya mengalami penurunan fungsi dan harus cuci darah rutin,” ungkapnya.

Bukan penyakit berat yang memicu Arif menjalani cuci darah. Seperti halnya banyak pemuda, Arif, cenderung memilih jalan pintas, instan. Kegemarannya akan olahraga futsal membuatnya menempuh jalan pintas untuk selalu mendapatkan kondisi tubuh yang selalu siap berlaga. Yaitu dengan mengonsumsi minuman suplemen berenergi. “Sehari bisa lebih dari lima bungkus saya minum suplemen berenergi. Maunya, sih, supaya terus kuat futsal,” dia menambahkan.

Tetapi, kini ginjalnya kewalahan mencerna zat-zat dalam minuman berenergi. Akhirnya, cuci darah menjadi menu rutin Arif dua kali seminggu. Rutinitas tersebut serasa menggambarkan rutinitas laga tanding futsal Arief semasa sehatnya.

Tak hanya Arif,  di layanan Hemodialisa di Rumah Sehat Terpadu, Parung, Bogor, Jawa Barat, empat dari tujuh pasien yang menjalani cuci darah, tergolong masih berusia produktif. Diantaranya adalah Embay (31) dan Dede Ridwan (24), keduanya sopir, juga mengalami penurunan fungsi ginjal.

Embay dan Dede Ridwan sering mengonsumsi minuman suplemen berenergi, yang mereka anggap ampuh mendongkrak stamina. Kerja keras sebagai sopir menuntut mereka memiliki konsentrasi tinggi. Sayangnya, bukan pola hidup sehat yang mereka terapkan. Embay dan Dede memilih fit secara instan, dengan minum suplemen energi. Akibatnya, fungsi ginjal mereka pun anjlok.

Bukan sehari, seminggu atau sebulan mereka menjalani cuci darah, tetapi seumur hidup mereka harus menjalaninya. Rata-rata dua kali dalam seminggu mereka harus cuci darah untuk mengeluarkan zat-zat sisa dari tubuh yang seharusnya dapat terbuang dalam bentuk urine.“Penurunan fungsi ginjal tidak memungkinkan para pasien untuk membuang zat sisa tubuh secara alami. Bahkan, ada yang sudah tak dapat lagi buang air kecil sebagai proses pembuangan alami,” kata Kepala Instalasi Rawat Jalan Hemodialisa Rumah Sehat Terpadu, dr. Agung Daulay.

Embay, Arif, dan Dede adalah bukti bahwa jalan pintas, dalam segala hal, selalu berdampak negatif. Suplemen minuman berenergi itu bukannya mendatangkan energi, tapi malah membunuh daya hidup sel-sel ginjal mereka. Sebuah harga yang teramat mahal. Menjalani pola hidup sehat dan memperhatikan kondisi kesehatan pada diri sendiri mejadi hal penting dan wajib. Karena pola hidup sehat adalah yang terbaik dibadingkan menempuh jalan pintas untuk mengharap sehat.