JAKARTA – Tepat di hari Sumpah Pemuda pada JUmat (28/10), Dompet Dhuafa Volunteer berkolaborasi bersama GreenFaith, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) ‘Aisyiyah, dan EcoBhineka Muhammadiyah menggelar Aksi Damai Komunitas Lintas Agama: Mendorong Kepedulian Setiap Pihak atas Isu Perubahan Iklim dan Krisis Energi Dunia di kawasan Masjid Istiqlal dan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Dalam aksi bertagar gerakan #Faiths4ClimateJustice ini, DD Volunteer dan 3 (tiga) lembaga lainnya melakukan ikhtiar untuk mengurangi penggunaan bahan bakar dari fosil. Gerakan ini juga masuk dalam gerakan dunia untuk keadilan iklim.
Aksi damai ini tak hanya dilakukan di Jakarta, tapi juga berlangsung di 277 titik di Indonesia. Di beberapa titik lainnya, para volunteer peserta aksi ini melakukan penanaman pohon, pembuatan mural, aksi bersih pantai, diskusi tentang energi alternatif, hingga tuntutan generasi muda terhadap masa depan yang lestari.
GM Aliansi Strategis dan Advokasi Dompet Dhuafa Arif R.H mengatakan, perubahan pemanfaatan energi tersebut sudah sangat mendesak. Selain peran utama pemerintah dalam proses transformasi tersebut, juga pentingnya peran serta berbagai elemen di masyarakat, salah satunya sektor umat beragama.
Peran krusial tokoh masyarakat, ulama hingga penggiat agama dalam mendorong proses transformasi energi bersih yang adil, pemanfaatan energi alternatif hingga mengurangi resiko perubahan iklim atas isu krisis energi adalah hal yang sangat berpengaruh, termasuk mengubah pola-pola kehidupan di masyarakat.
“Tujuan dari upaya ini adalah mendorong kebijakan pemerintah untuk mengoptimalkan penggunaan energi bersih,” ujarnya, dilansir dompetdhuafa.org.
Hal-hal sederhana yang bisa dilakukan masyarakat seperti berjalan kaki, bersepeda dalam kegiatan keagamaan atau mengurangi penggunaan lampu tak terpakai di lingkup tempat ibadah hingga pembangunan ruang-ruang fasilitas ibadah yang memperhatikan unsur lingkungan.
Hening Parlan selaku Ketua Divisi LLHPB Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah mengatakan, aksi Umat agama ini sesungguhnya merupakan ekspresi dari ritual keumatan untuk menjaga bumi dari kerusakan. Menjabat sebagai Direktur Eco Bhinneka juga, ia mengungkapkan bahwa urusan menjaga bumi bukan menjadi konsern pada satu agama saja, melainkan menjadi konsern dari seluruh agama.
Ada tiga seruan yang disampaikan dalam aksi ini. Pertama, mengharapkan kepada pemerintah untuk mendorong kebijakan kepada energi yang terbarukan, dan mempercepat proses transformasinya secara adil serta membuka lapangan-lapangan kerja yang ramah terhadap lingkungan (green jobs).
Kedua, mendorong lembaga-lembaga ekonomi atau lembaga-lembaga finansial untuk tidak membiayai kegiatan-kegiatan yang terkait dengan energi kotor berbasis fosil. Ketiga, mendorong seluruh pemimpin umat agama untuk mengambil peran penting dengan mengadakan gerakan peduli lingkungan yang didasari pada keimanan masing-masing.





