KAIRO – Empat mahasiwa asal Indonesia yang kuliah id Universitas Al Azhar Kairo ditahan oleh pihak berwenang Mesir sejak awal Juni lalu karena diduga terlibat dalam gerakan radikalisme.
Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Kairo mendapat informasi pada 6 Juni lalu melalui Hotline KBRI ketika salah satu mahasiwa yang ditahan yakni Rifai Mujahidin al Haq, mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari Balikpapan memberikan informasi penangkapan.
Rifai ditahan bersama dua temannya yakni Adi Kurniawan asal Bandung, dan Achmad Affandy Abdul Muis dari Lampung.
Dalam laman resminya, Rabu (5/7/2017), KBRI Kairo mengatakan sehari setelah mengetahui informasi secara informal, maka pada 7 Juni, KBRI telah melakukan kunjungan ke Kantor Polisi Resor Samanud bersama pengacara dan menyerahkan kelengkapan data-data para mahasiswa seperti paspor dan izin tinggal yang masih berlaku.
“Namun, pihak Reserse Kriminal Kepolisian Samanud tidak dapat memutuskan pembebasan penahanan tiga orang mahasiswa karena masalah ini telah dilimpahkan dan diproses penyelesaiannya oleh pihak Keamanan Nasional,” tutur pernyataan itu.
Tidak sampai disitu, KBRI Kairo pun telah mencoba menghubungi Keamanan Nasional yang mengurusi masalah kedutaan asing di Mesir. Namun, pihak Keamanan Nasional mengaku tidak memiliki informasi terkait penangkapan mahasiswa Indonesia tersebut.
Penangkapan ketiga mahasiswa RI itu bermula saat mereka hendak membeli bahan makanan untuk berbuka puasa di pasar. Menurut sejumlah teman ketiga mahasiswa itu, mereka tiba-tiba didatangi oleh polisi yang segera membawa mereka ke kantor. Padahal, ketiganya telah menunjukkan paspor asli lengkap dengan izin tinggal dan kartu identitas mahasiswa.
Selain itu, pada pertengahan Juni KBRI Kairo juga menerima laporan bahwa mahasiswa Indonesia lainnya yakni Mufqi Al Banna ditahan di Polsek Aga Provinsi El Dakahlia, sekitar 15 KM dari Kota Mansourah. Mufqi ditangkap dengan alasan serupa.
KBRI juga mengungkapkan jika kepolisian Mesir saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan razia menyusul serangkaian teror yang menerpa negara di Afrika Utara itu dalam beberapa waktu terakhir.
Salah satunya yakni aksi teror di Gereja St. George di kota Tanta pada 9 April lalu, menewaskan 28 orang; Insiden di Gereja St. Markus di Alexandria pada 9 April yang menewaskan 17 orang; teror di Kota Minya pada 26 Mei lalu; dan penembakan ke sebuah bus konvoi yang membawa Jemaat Kristen Koptik dengan korban meninggal 28 orang dan 26 terluka.
Serangkaian teror tersebut membuat Pemerintah Mesir terpaksa menerapkan darurat keamanan yang berlaku sejak 10 April hingga 3 bulan ke depan.





