
KERUMUNAN warga membludak, bahkan ada yang datang ditandu untuk mendapatkan pengobatan alternatif dari dukun kondang Ida Dayak di GOR Divisi I Kostrad di Cilodong, Depok, Senin, (3/4) sehingga dibatalkan karena situasinya nyaris tak terkendali.
Tak kurang dari Panglima TNI Laksamana Yudo Margono yang pasang badan, menyebutkan acara pengobatan massal tersebut merupakan bagian bhakti sosial TNI pada masyarakat yang datang tidak hanya dari wilayah sekitar, tapi ada yang dari Lampung dan provinsi lainnya.
Ia mengaku, kedatangan Ida Dayak ke Makostrad, Depok, atas undangan kesatuan tersebut dalam kegiatan bakti sosial sehingga TNI tidak mempersoalkannya selama digunakan untuk penyembuhan.
Sementara Ketua Dewan Pakar Perhimpunan Dokter spesialis Ortopaedi dan Traumatologi Universitas Airlangga, Ferdiansyah yang juga guru besar bidang yang sama di PT tersebut menilai, pengobatan medis dan pengobatan alternatif bisa saling melengkapi.
Namun demikian, harus ada persyaratan yang dipenuhi seperti standarisasi serta monitoring atau pengawasan terhadap praktek terapi yang dilakukan dan evaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas  terapi yang juga harus dilakukan terstruktur demi memastikan keamanan pasien.
Contohnya, dalam kasus patah tulang, pasien harus didiagnosis dengan tepat, terapi dan pengobatannya harus benar, karena di dalam tulang terdapat susunan saraf otot dan pembuluh darah.
âJika dilakukan serampangan, kondisi pasien bisa makin buruk, Saraf dan pembuluh darah yang bermasalah bisa memicu kelumpuhan, âujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Karo Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi yang menyebutkan, pemerintah melalui dinas-dinas kesehatan di daerah melakukan pembinaan terhadap praktik pengobatan tradisional termasuk mengeluarkan surat terdaftar penyehat tradisional.
Namun demikian, ia tetap menyarankan agar masyarakat  melakukan pemeriksaan pada dokter di fasilitas layanan kesehatan atas penyakit yang dirasakan karena ketepatan diagnosa sangat diperlukan bagi pengobatan yang diperlukan.
Berbagai motif dilakukan publik untuk mendapatkan layanan pengobatan tradisional atau alternatif, mulai dari rendahnya literasi sehingga mudah terpancing promosi di medsos atau dari mulut ke mulut, jauh dari akses kesehatan karena lokasi tempat tinggal, kemiskinan atau putus asa, penyakitnya tidak sembuh-sembuh.
Begitu mendengar ada âorang pintarâ yang bisa menyembuhkan penyakit apa saja, warga langsung datang berbondong-bondong, seperti terjadi pada dukun cilik Ponari dari Desa Jelakombo, Kec. Jombang, Jawa Timur.
Praktek pengobatan oleh Ponari (saat itu berusia 12 tahun) berawal di tengah hujan lebat disertai petir yang menyambar-nyambar pada Februari 2009 ia menemukan sebongkah batu sekepalan tangan jatuh dari langit yang lalu digunakan untuk pengobatan.
Ribuan warga dari desa-desa sekitarnya berdatangan menerima pengobatan dari Ponari, cukup membawa air untuk dicelupkan pada batu tersebut, lalu diminum yang konon bisa menyembuhkan berbagai penyakit.
Wallahualam, apakah ada yang sembuh atau mengalami sugesti merasa sembuh setelah diobati Ponari, yang lama kelamaan dilupakan orang sehingga ia kembali menjalani kehidupan biasa menjadi agen air kemasan.
Masih beruntung, jika pasien tidak ditipu sang dukun atau ahli pengobatan alternatif, cuma penyakitnya tidak sembuh. Yang lebih parah, jika pasien dicabuli atau malah makin berat penyakitnya karena terapi yang dilakukan menyimpang dari prosedur medis.
Waspada dan waspada, jangan cepat percaya!




