
FINLANDIA, salah satu negara di kawasan Nordik di Eropa Utara atau kelompok negara Skandinavia dalam empat tahun berturut-turut dinobatkan sebagai negara paling bahagia sedunia.
Hal itu terungkap dalam laporan tahunan berjudul “World Happiness Report” disponsori PBB yang dirilis baru-bau ini melalui metode analisis Gallup yang digelar di 149 negara dengan meminta mereka menilai kebahagiaan mereka sendiri.
Dalam menyusun laporan tersebut dimasukkan juga indikator lain seperti PDB, dukungan sosial, kebebasan pribadi, dan tingkat korupsi setiap negara.
Setelah Finlandia, negara-negara paling bahagia menurut laporan WHR, berturut-turut Denmark, Swiss, Islandia, dan Belanda, sementara Indonesia menampati urutan ke-82, sedangkan Afghanistan yang tak putus-putusnya didera konflik berada di urutan bucit.
Dari sisi jarring pengaman ekonomi, pengangguran mendapatkan tunjangan 560 Euro per bulan (sekitar Rp9-juta) dan saat menganggur mereka bisa mengikuti, bahkan didorong untuk mengikuti pelatihan gratis.
Karakter yang tercermin dari perilaku sehari-hari orang-orang Finlandia juga memberikan kontibusi besar bagi mereka untuk merasa bahagia selain jaminan keamanan termasuk ekonomi, fasilitas, prasarana dan sarana publik yang disediakan.
Dari pengakuan sejumlah WNI yang tinggal di Finlandia, antara lain mereka melihat sifat orang Finlandia tidak “kepo” atau ikut campur urusan orang lain, bahkan terkesan tertutup, namun persepsi mereka tarhadap warga asing termasuk dari Asia sangat positif.
“Orang Finlandia umumnya tertutup dana tidak terbiasa berbasa-basi, “ tutur WNI asal Bogor, Ajimufti Azhari yang sudah delapan tahun tinggal di Helsinki, ibukota negara tersebut pada Kompas Online.
Menurut Ashari, orang Finlandia tidak terbiasa bergunjing. Jika mereka penasaran, langsung akan menanyakannya, sementara dalam kegiatan sehari-hari, penduduk sangat tertib dan tejadwal.
Namun di di balik sikap yang terlihat tertutup, dingin dan cuek, tutur Wishuwardani (55) yang sudah menetap di Finlandia sejak 1994, orang Finlandia dengan tulus siap membantu orang lain yang mengalami kesulitan .
Kejujuran, Penting
Kejujuran sehingga menimbulkan sikap saling percaya, kata Desire Luhulima (64) yang mengajar bahasa Indonesia untuk anak-anak di Finlandia, sudah dipupuk sejak usia dini.
“Di sini kendali pendidikan ditentukan siswa, bukan guru. Murid mengevaluasi dirinya sendiri. Hasilnya, tingkat kejujurannya makin lama makin tinggi,” ucap wanita keturunan Maluku yang sudah menetap di Finlandia sejak 1997.
Lebih lanjut Desiree mengungkapkan, kunci kebahagiaan lainnya dari masyarakat negara Skandinavia adalah hidup berdampingan dengan alam dan tergolong cukup sederhana.
“Mereka tidak berlomba-lomba dengan kehidupan. Kalaupun mereka berkejaran, itu dengan dirinya sendiri, bukan orang lain,” kata Desiree seraya menambahkan, lingkungan alamnya yang dianugerahi danau, hutan, pantai dan taman kota menunjang pola kehidupan.
Prasana dan sarana publik yang tertata baik, seperti transportasi umum, perpusatakaan gratis, kenyamanan dan keamanan di ruang publik, bebas copet, begal dan tawuran serta pengendara ugal-ugalan dan hal-hal menakutkan lain juga berkontribusi bagi kebahagiaan warga.
Walau berbeda budaya, tidak ada salahnya Indonesia meniru Finlandia, mulai dari perbaikan prasarana dan sarana publik, selain penegakan hukum agar orang-orang berfikir seribu kali untuk melakukan perilaku menyimpang atau melakukan kejahatan dan tak kalah pentingnya pembangunan karakter bangsa.
Mulai dari kehidupan bertangga yang baik, dari hala-hal kecil misalnya tidak bergunjing satu dan lainnya, menetapkan aturan yang jelas terkait parkir mobil, tata cara bertegur sapa, menjaga ketertiban serta menghindari hal-hal yang bisa memicu konflik.
Perlu Aturan Jelas
Sebaliknya, di Indonesia, masih banyak hal yang membuat orang tidak nyaman, apalagi merasa bahagia, baik saat berada di lingkungan hunian maupun di ruang-ruang publik.
Di lingkungan hunian di Indonesia yang penduduknya beraneka ragam suku, latar belakang pendidikan, tingkat ekonomi serta kedudukan sosial, berbagai potensi konflik yang membuat orang tidak bahagia bisa muncul sewaktu-waktu jika tida ada pedoman dan aturan yang jelas.
Misalnya saja, berapa ukuran volume buyi-bunyian (dari radio, TV, karaoke atau alat musik audio lainnya yang diperkenankan, juga pengeras suara di masjid-masjid dan aturan memelihara hewan peliharaan di lingkungan hunian.
Selain aturan yang jelas, sanksi tegas tanpa pandang bulu termasuk terhadap kelompok mayoritas, orang-orang yang memiliki pengaruh atau kekuasaan atau yang memang sok jago juga harus ditegakkan.
Sedangkan di ruang-rang publik, cara saling memandang saja jika tidak diatur bisa menjadi pemicu konflik, juga misalnya adab menyelak pembicaraan orang, antrian, membunyikan klakson kendaraan, apalagi ugal-ugalan berkendara.
Walau sudah ada Undang-Undang ITTE yang mengenakan sanksi bagi orang yang memosting narasi hoaks, fitnah, insinuasi dan provokasi di medsos, adab dan etika harus terus disosialisasikan pada publik.
Kajian baru-baru ini yang menempatkan penduduk Indonesia paling rendah adab dan etikanya di Asia dalam berkomunikasi di medsos selayaknya harus menjadi perhatian para pemangku kepentingan untuk memperbaikinya.
Segudang persoalan agaknya harus dibenahi jika Indonesia ingin menjadi negara berbahagia seperti Finlandia, mulai dari perbaikan fasilitas, prasarana dan sarana publik, pemberian jaringan pegamanan sosial, penegakan hukum, dan tak kalah pentingnya pembangunan karakter bangsa.
Apa ada yang memikirkan sampai ke sana?




