
KASUS gangguan ginjal akut progresif atipikal (Atypical Progressif Accute Kidney Injury) pada anak yang belum diketahui penyebabnya, secara nasional mau pun di wilayah DKI Jakarta terus meningkat.
Dinkes Jakarta mencatat, pada periode Januari – 13 Oktober 2022 ada 42 kasus gagal ginjal akut misterius pada anak, 22 anak laki-laki dan 13 anak perempuan terdiri dari 37 balita dan lima lagi usia antara lima sampai 18 tahun dan 25 diantaranya meninggal.
Sejauh ini Dinkes DKI Jakarta juga sudah berkoordinasi dengan sejumlah RS di ibukota serta dengan pemerintah pusat, mengingat wabah penyakit tersebut sebelumnya belum pernah terjadi.
Seementara Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga melaporkan, selama Januari sampai 14 Oktober 2022 tercatat 152 anak di 16 propinsi yang mengalami penyakit ginjal akut atipikal tersebut atau ada kenaikan 10 kasus (dari 142) pada empat hari terakhir.
Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Pimprim Basarah Yanuarso, data kasus gagal ginjal akut IDAI bisa jadi berbeda dari data Kemenkes karena belum mencakup seluruh propinsi.
Dari hasil temuan IDAI, gejala utama gagak ginjal akut yakni anuria dimana pasien tidak bisa berkemih (anuria) yang dialami 69,1 persen anak dan 24,3 persen lagi mengalami oliguria atau hanya mengeluarkan urine sedikit.
Selain itu, dari sejumlah kasus gagal ginjal akut, ditemukan pulasejumlah gejala prodromal seperti demam, infeksi saluran cerna dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).
Saat dilakukan pemeriksaan antigen/PCR, 8,2 persen negatif Covid-19, sedangkan sat dilakukan pemeriksaan antibody, 38,8 persen positif dan 31,6 persen negatif, sementara selebihnya tidak diperiksakan.
Para orang tua diminta waspada dan segera membawa anaknya ke fasyankes terdekat jika ditemui gejala-gejala terkena gagal ginjal akut misterius tersebut .
Gejalanya a.l. jika menunjukkan gejala demam , ISPA (batuk, pilek), atau gejala infeksi saluran cerna (diare, muntah), juga gejala anuria dan oliguria .
Orang tua juga perlu memantau jumlah dan warna urine anak. Jika urine anak pekat dan berwarna kecoklatan, juga dengan gejala anuria dan oliguria tanpa demam, perlu dilarikan ke fasyankes terdekat.
Waspada dan waspada agar jangan sampai kecolongan seperti terjadi pada Covid-19!
Waspada! Penyakit Ginjal Misterius
KASUS gangguan ginjal akut progresif atipikal yang menyerang 131 anak di 14 propinsi di Indonesia selama periode Januari sampai September perlu diwaspadai, apalagi penyebabnya masih misterius.
Dirjen Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu (12/10) menyebutkan, tim khusus Kemenkes, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan RS Cipto Mangunkusumo sudah dibentuk untuk meneliti penyakit misterius tersebut.
“Namun sejauh ini belum diketemukan bakteri atau virus yang spesifik, “ ujarnya.
Sedangkan menurut informasi dari Dirjen Pelayanan Kesehatan, Kemenkes, gangguan ginjal akut progresif atipikal (atypical progressive acute kidney injury) menyerang anak-anak di bawah usia 18 tahun.
Gejalanya, demam selama tujuh sampai 14 hari, infeksi saluran cerna seperti muntah dan diare dan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (batuk dan pilek), mengalami keluhan tidak bisa berkemih (anuria) disertai turunnya volume urine.
Pada beberapa kasus juga terjadi penurunan kesadaran, sehingga jika ini terjadi, pasien diharapkan segera dilarikan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar penyakitnya tidak semakin parah.
Pasien perlu dirujuk ke RS jika volume urine kurang dari 0,5 mililiter per kilogram berat badan per jam selama enam sampai 12 jam atau tidak ada urine selama enam sampai delapan jam di siang hari. Tatalaksana atau perawatan selanjutnya juga dilakukan di RS.
Sebelumnya Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDA) menyebutkan, ke-131 anak yang mengalami gagal ginjal tersebut berasal dari 14 propinsi a.l. Aceh, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, NTT dan Papua.
Yang melegakan, Dirut BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti menyatakan, layanan kesehatan bagi penyakit baru termasuk gagal ginjal akut misterius tersebut ditanggung oleh program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).
“Sepanjang sesuai prosedur dan terindikasi medis, BPJS Kesehatan akan meng-cover pembiayaan untuk penyakit misterius termasuk gagal ginjal akut atipical , “ujarnya.
Yang juga perlu diketahui, kasus gagal ginjal akut yang terdeteksi di Indonesia tidak ada kaitannya dengan kematian 66 anak di Gambia, Afrika Barat baru-baru ini yang diduga mengosumsi obat batuk pruduk India.
BPOM memastikan keempat obat batuk yang menurut WHO mengandung zat berbahaya (Promethazine Oral Solution, Kotexmalin dan Makoff Baby Cough Syrup serta Magrib N Cold Syrup tidak terdaftar di Indonesia.
Para orang tua diminta waspada dan segera membawa anaknya ke fasyankes terdekat jika ditemui gejala-gejala terkena gagal ginjal akut misterius tersebut .
Gejalanya a.l. jika menunjukkan gejala demam , ISPA (batuk, pilek), atau gejala infeksi saluran cerna (diare, muntah), juga gejala anuari, auguria .
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboatorium, belum ditemukan secara konsisten virus atau patogen lain dari para pasien tersebut, sedangkan gagal ginjal akut umumnya terjadi jika tubuh kekurangan atau kehilangan cairan dalam waktu singkat seperti akibat diare yang menyebabkan dehidrasi atau pendarahan hebat akibat syok karena demam berdarah (DB atau dengue).
Yang misterius, lanjut Eka dalam konferensi pers daring (10/10), anak-anak yang terserang gagal ginjal tiba-tiba mengalami penurunan volume urine.
Untuk itu, para orang tua harus mewaspadai jika anak mereka mengeluh karena buang air kecil sedikit dengan memeriksakan segera ke layanan kesehatan terdekat (Puskesmas, dokter atau RS).
Namun Eka juga menekankan, kasus gagal ginjal akut yang terdeteksi di Indonesia tidak ada kaitannya dengan kematian 66 anak di Gambia, Afrika Barat baru-baru ini yang diduga mengosumsi obat batuk pruduk India.
Sejauh ini, BPOM memastikan keempat obat batuk yang menurut WHO mengandung zat berbahaya (Promethazine Oral Solution, Kotexmalin dan Makoff Baby Cough Syrup serta Magrib N Cold Syrup tidak terdaftar di Indonesia.
Para orang tua harap waspada! Jangan minum obat sembarangan, pastikan obat yang terdaftar di BPOM, konsumsi sesuai takaran dan perhatikan daluwarsanya.



