
TERLEPAS apa pun motif atau alasan yang mendorong EP (16), siswa SMP Negeri I Blitar melakukan bunuh diri, para orang tua dan pihak sekolah perlu lebih waspada untuk mencegah agar aksi nekat semacam itu tidak menginspirasi siswa atau kalangan remaja.
EP meninggal dengan mengantung diri di kusen pintu di tempat kosnya di Jl. A Yani, Kel. Samawetan, kota Blitar (29/5), diduga karena cemas tidak bisa mendaftar di SMA Negeri I Blitar yang menjadi salah satu sekolah favorit di kota tersebut karena ia tercacat berdomisili di alamat orang tuanya di Kel. Srengat, Kab. Blitar, di luar zonasi yang ditetapkan.
Menurut Kepala Sekolah SMPN 1 Blitar Kateman, EP termasuk siswi berprestasi, berada di peringkat ke 30 di sekolahnya dan pernah mewakili sekolahnya mengikuti olimpiade sains.
Belum ditelusuri hubungan EP dengan kedua orang tuanya, namun diketahui sejak di bangku SMP ia kost ditemani oleh pengasuhnya sejak kecil bernama Mariani yang mengetahui kematian anak semangnya itu sepulang dari membeli nasi di warung atas permintaan korban. Kedua orang tua EP tinggal di Kel. Srengat, di luar kota Blitar.
EP juga sempat menulis surat berisi biodata dirinya dan permohonan maaf pada ibunya yang telah membanting tulang untuk membiayainya, pada kakak-kakaknya serta juga pada pengasuhnya, Mariani yang disebut Maklek dan juga pada pemilik kos-kosan.
Dalam suratnya EP meminta jasadnya dikremasi, melarang ibunya untuk membuka praktek (tidak diketahui maksudnya-red), dan menuliskan nomor telpon RS Mardi Waluyo di Blitar dan menyebutkan kartu BPJS-nya yang ditaruh di amplop.
Sementara Mendikbud Muhadjir Effendy di Jakarta (30/5) yang mengaku telah menghubungi kepala dinas pendidikan Blitar, mengatakan, alasan EP nekat bunuh diri tak hanya terkait sistem zonasi sekolah, tetapi ada persoalan lain.
“Saya sudah hubungi kepala dinas pendidikan Kota Blitar dan sudah saya mintai keterangan yang cukup tentang kasus itu, “ kata Muhadjir seraya menambahkan, penyebab yang mendorong EP bunuh diri tidak tunggal, tetapi ada beberapa persoalan yang menyertai sehingga peristiwa itu terjadi,” kata Muhadjir.
Namun Muhadjir tidak menampik, kekhawatiran bakal tidak diterima di SMAN 1 Blitar, menjadi salah satu faktor pemicu EP untuk mengakhiri hidupnya, dan terkait hal itu, ia menyebut EP kurang mendapatkan informasi mengenai sistem zonasi.
“Memang salah satu faktor (penyebab bunuh diri), karena dia merasa tidak bakal bisa masuk di sekolah yang dicita-citakannya, tetapi itu sebenarnya karena ia kurang informasi dari pihak keluarga atau sekolah ,” tutur Muhadjir dan menambahkan, jika EP memiliki informasi yang lengkap, peristiwa tragis itu tidak terjadi.
Walau keterangan domisili EP di luar zona, tetapi SMP tempat ia bersekolah berada di zona yang sama dengan SMAN I, apalagi berdasarkan peraturan Ditjen Dikdasmen, sekolah dibolehkan menampung sekitar 10 persen siswa yang beralamatkan tinggal di luar zonasi yang ditetapkan.
Muhadjir enggan merinci persoalan yang membuat EP nekat bunuh diri, namun ia menyoroti kehidupan EP yang tinggal terpisah dari orang tuanya.
“Mungkin ada persoalan lain yang menyertai kenapa dia kost, tidak tinggal bersama orang tuanya. Tapi saya tidak ingin masuk ke persoalan tersebut, “ tuturnya.
Berkaca dari kasus ini, Muhadjir berharap pihak sekolah dan orang tua benar-benar memberikan bimbingan dengan baik kepada anak-anak dan tidak membiarkan mereka mengambil keputusan sendiri atas masa depannya.
“Untuk siswa SMP dan SD, saya mohon bimbingan dari sekolah dan dari orang tua harus betul-betul berjalan dengan baik. Jangan biarkan anak mengambil keputusan sendiri tanpa bimbingan, arahan dari sekolah dan orang tua,” ujarnya.
“Termasuk penjelasan tentang sistem zonasi, kebijakan baru bahwa nanti ke depan tidak ada skolah favorit dan bukan favorit. Ke depan semua harus jadi sekolah favorit. Dalam waktu tidak lama ini akan dilakukan pemerataan, seluruh sekolah favorit,” tandasnya.
Namun dari kesaksian rekan kelas EP, Wulan menyebutkan dari postingan di grup WA, almarhumah menjelang hari-hari terakhir memang sangat cemas ia tidak bisa diterima di SMAN I karena ia tinggal di luar zonasi, dan hal senada juga disampaikan oleh pengasuhnya, Mariani yang mendampingi EP sampai akhir hayatnya.
Rentan depresi
Sedangkan psikolog Mellica Grace di acara TV One, Kamis menilai, remaja seusia EP memang rentan terhadap depresi karena belum memiliki kematangan mengelola emosi, apalagi di tengah budaya yang serba instan di era naw ini dimana orang mudah mengalami tekanan sosial di lingkungannya.
Remaja juga sering ingin menunjukkan eksistensi dirinya, padahal mungkin ada hal-hal di luar batas kemampuan diri atau orang tuanya sehingga obsesinya terhadap sesuatu dipendam sendiri pada saat orang tua, sekolah atau lingkungannya tidak ikut mendukung atau paling tidak mencarikan solusi baginya.
“Mungkin ia bakal sangat kecewa dan malu jika sampai tidak bisa sekolah bersama rekan-rekan lainnya se-SMP sehingga mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya, “ tutur Mellisa.
Untuk itu Mellisa berharap agar para orang tua menjalin komunikasi yang lebih intens dengan anak-anaknya sehingga terbentuk ikatan emosional untuk bersama-sama mencari solusi bagi setiap persoalan yang dihadapi si anak, tidak membiarkan anaknya menanggung beban sendiri.
Menurut catatan, sejak 2007 tercatat 11 siswa di seluruh Indonesia meninggal terkait Ujian Nasional (UN), delapan diantaranya bunuh diri dan tiga meninggal akibat stress berat setelah mengikuti UN. Tidak terekam jumlah siswa yang bunuh diri akibat putus sekolah atau gagal melanjutkan ke jenjang lebih tinggi karena alasan biaya dan penyebab lainnya.
Sedangkan berdasarkan survei yang digelar Balitbang Depkes pada 2015, sebanyak 650 siswa dari 10.300 siswa SMP dan SMA di seluruh Indonesia, berkeinginan melakukan bunuh diri, dan walau tidak diteliti lebih jauh penyebabnya, berdasarkan evaluasi, kemungkinan karena kurang perhatian atau kasih sayang dari orang tua.
Bahu membahu orang tua murid dan pihak sekolah perlu dilakukan untuk merumuskan langkah antisipatif agar aksi-aksi nekat seperti dilakukan EP bisa dicegah.




