Jaman Serba Plastik

Lautan sampah plastik di Teluk Jakarta, tengah dibersihan petugas PPSU dan Lingkungan Hidup.

SEKARANG ini memang jaman plastik, apa-apa dibuat dari plastik. Dulu ada sandal plastik, kacamata plastik, sekarang ada beras plastik. Terakhir pohon pun dari plastik. Sebetulnya pohon plastik juga sudah lama adanya. Tapi karena kemudian dipasang di Jl. Thamrin dan Merdeka Barat, Jakarta, ramailah di jagad medsos. Untung saja para pejabat DKI tak bermuka plastik. Begitu viral dan ditanggapi sinis, hanya dipasang beberapa jam langsung dicabut kembali. Padahal proyek plastikisasi pohon itu kabarnya sampai senilai Rp 8 miliar lebih.

Sejak tahun 1965-an terjadi revolusi plastik di Indonesia. Alat pembungkus atau pelindung yang biasanya dari daun maupun kertas, mulai digantikan oleh plastik. Dari kota sampai desa-desa semua menggunakannnya. Di samping lebih awet, juga kedap air. Orang kampung yang bila kehujanan berkudung daun pisang, mulai pakai mantel plastik yang harganya murah meriah.

Seketika plastik menjadi sebuah komoditas, bisnis yang mengungtungkan bagi para pelakunya.  Sampai-sampai di Yogyakarta tahun 1968-an pernah terjadi, murid PGA Negeri bolos pelajaran PD (Pendidikan Djasmani) di sekolahnya hanya untuk bisnis plastik. Begitu ditanya Pak Guru dan dijawab dengan sejujujur-jujurnya, langsung kena tempeleng dia; pletakkkk!

Jaman itu sandal plastik yang bermerk Lily dan Nilex, sangat populer bagi kalangan remaja. Mereka menyebutnya sebagai sandal anti patah, sebab ditekuk-tekukpun takkan patah. Waranya ada hijau, merah hati da kuning. Pokiknya di jaman itu, remaja pakai sandal Lily atau Nilex, top markotoplah!

Makin ke sini ember plastik dan klasa (tikar) plastik juga sudah menjadi kebutuhan setiap rumahtangga. Konsekuensinya, ember dari seng dan klasa mendong menghilang. Tukang solder keliling mulai kehilangan pasar, dan klasa mendong tinggal untuk pembungkus mayat menuju alam barzah.

Ketika bungkus membungkus dan tenteng menenteng juga menggunakan kantong plastik, pecinta lingkungan hidup mulai teriak-teriak. Teluk Jakarta di  utara Jakarta misalnya, sudah menjadi lautan sampah plastik. Mereka akan abadi sana, karena plastik memang tidak bisa diurai dengan pembusukan.

Kepala angkatan laut PBB Svensson kepada BBC News baru-baru ini mengatakan, sampah plastik di lautan Pasifik luasnya 1,4 wilayah Indonesia. Penyumbang terbesar adalah China dengan volume 262,9 juta ton. Indonesia penyumbang kedua sebanyak 187,2 juta ton. Sampah-sampah plastik lainnya dikirim dari negara Asia Tenggara semisal Filipina, Vietnam dan  dan Srilangka.

Tahun 2016 Kementrian Lingkungan Hidup pernah melarang toko-toko ritel menyediakan plastik bagi belanjawan dan belanjawati. Di Jakarta kemudian diberlakukan hal yang sama. Tapi itu hanya seumur jagung. Sebab kini konsumen tidak perlu lagi bawa kantong sendiri atau bayar kantong plastik, karena semua sudah kembali diberikan gratis.

Belum lama ini diberitakan sampah plastik di Teluk Jakarta dibersihkan Sudin Lingkungan Hidup bekerjasama dengan petugas PPSU. Tak kurang dari 400 orang dikerahkan, termasuk pakai alat berat. Hanya dalam beberapa hari 22 ton sampah termasuk plastik-plastik berhasil diangkat.

Di satu sisi plastik dalam bentuk sampah memang membahayakan lingkungan. Tapi dalam bentuk kreativitas manusia, ketika plastik itu dibentuk menjadi pohon-pohon imitasi, menjadi karya seni yang menarik. Tapi celakanya, begitu latahnya Pemprov DKI, jalan-jalan protokol sepanjang Thamrin dan Merdeka Barat “ditanami” pula pohon-pohon plastik. Bukannya menambah sejuk suasana, tapi malah ngribeti karena mengganggu pejalan kaki. Maka begitu dikritik warganet di medsos, buru-buru dibongkar. Padahal proyek itu kabarnya senilai Rp 8 miliar lebih. DKI buntung, tapi kontraktor tetap untung. (Cantrik Metaram).

 

Advertisement