PADA akhir April 2023 lalu di Pasar Seni Gabusan Bantul, digelar festival jajanan tradisional sekaligus mainan tradisional yang serba jadul. Selain untuk bernostalgia, juga untuk melestarikan warisan budaya yang mulai dilupakan generasi milenial sekarang ini. Sayangnya, dari semua mainan jadul itu tak dihadirkan gambar umbul yang masih digemari anak-anak hingga taun 1970-an. Namun demikian selamat bagi Pemkab Bantul yang masih mau ngopeni hal-hal yang dianggap kuno oleh generasi sekarang.
Gelaran itu diberi nama: Festival Klangenan Bantul. Sesuai namanya, tentu saja yang disajikan makanan model lama, tapi bukan kadaluwarsa. Misalnya jenang gempol, geplak, dan wedang uwuh. Untuk mainan jadul ada gasing dari bambu, thek-thekan yang kini disebut lato-lato. Tapi sayang, dari berbagai mainan tradisional lama, sama sekali tak ditemukan gambar umbul, yakni karton tipis ukuran separo A3 yang berisi gambar wayang sebanyak 50 buah.
Bagi bocah tempo dulu yang kini berusia 70-an tahun ke atas, pastilah tahu apa itu gambar umbul. Bagi anak Jawa, khususnya Jateng, Jatim, DIY dan transmigran dari Jawa, masih akrab dengan mainan ini, tapi jaman itu! Karena ketika dibuat tebakan, Harjuna nomer berapa, pasti akan menjawab cepat: tujuh! Itu karena saking hafalnya. Begitu juga ketika pertanyaan dibalik Togog nomer berapa, bocah masa lalu akan menjawab cepat: “Patang puluh (40)…..”
Bahkan almarhum dalang kondang Ki Hadisugito sempat menjadikan gambar umbul untuk humor dalam pakeliran. Misalnya ketika seorang raja mengaku tak kenal pada tamunya si Petruk Kantongbolong, punakawan Pendawa menuntunnya dengan mengatakan, “Menawi wonten gambar umbul, kula punika nomer 26.” Kontan raja itu menjawab cepat, “O, Petruk!”
Ki Hadisugito lahir tahun 1942, berarti di masa bocahnya tahun 1950-an, sudah ada gambar umbul tersebut. Satu dekade kemudian tahun 1960-an, di masa kecil penulis juga akrab sekali dengan mainan tersebut. Di sekolahpun potongan gambar umbul dibawa masuk kelas, meski tetap berada dalam kantong. Pak/Bu Guru akan marah jika main gambar umbul dalam kelas.
Siapa pencipta dan pencetak gambar umbul tersebut tak pernah terungkap. Yang jelas, mutu gambarnya sangat buruk. Bentuk gambar wayangnya juga tak bisa persis sama dengan wayang yang dipegelarkan dalam tontonan. Jaman itu memang belum ada percetakan ofset, apa lagi print digital. Jika ada, percetakan di masa itu hanya semacam duplek dan handset. Walhasil bila dibandingkan dengan hasil cetak masa kini, nyata benar bedanya meski tak dicuci dengan sabun Sunlight.
Seiring dengan kemajuan jaman dengan hadirnya TV swasta dan berwarna lagi, komik-komik Jepang masuk TV. Anak-anak mulai lebih akrab dengan Sincan, Doraemon dan Teletubis. Gambar umbul sudah tak dilirik anak-anak, apa lagi sekarang ada HP canggih, selamat tinggal gambar umbul, yang bagi mereka sama sekali tak pernah melihatnya.
Jadi jika Festival Klangenan di Bantul tanpa menghadirkan gambar umbul, karena barangnya sudah susah dicari. Di daerah DIY, mungkin yang masih koleksi gambar umbul adalah Ibnu Winarko pegawai Kantor Pajak orang Bantul yang kini menetap di rumahnya yang asri kawasan Kaliurang, Yogyakarta utara. Di sini bukan saja gambar umbul, barang antik dan buku-buku Sastra Jawa lama banyak pula disimpan.
Mungkin untuk mengenalkan kembali gambar umbul, harus diganti kemasannya. Bukan lagi gambar wayang, tapi para tokoh oposisi. Teman penulis kini sedang menyiapkan gambar semacam itu. Bentuk dan modelnya persis seperti gambar umbul tempo dulu, tapi gambarnya para tokoh oposisi. Jika gambar umbu nomer 1 adalah Pandu, di gambar umbul oposisi nomer 1 justru Amien Rais. No. 2 Gatot Nurmantyo, No. 3 Fadlizon. Sedangkan Rocky Gerung dan Sugik Nor dapat nomer 5 dan 7.
Memangnya cukup untuk mengisi kotak-kotak gambar sebanyak 50 kotak? Bisa lebih malah. Tapi masalahnya, di gambar nomer 41 sampai 50 apakah juga ditampilkan gambar sekelompok hewan? Memangnya ada hewan mengambil sikap oposisi pada pemerintah? Meskipun, ada juga tokoh opisisi yang serakahnya seperti monyet! (Cantrik Metaram)





