
SEKARANG sedang ramai soal hastag #2019Ganti Presiden, sampai sang pendeklarasinya diudak-udak massa. Kita takkan membahas wilayah yang sekarang sedang sensitif itu. Bagi rakyat kecil, persetan dengan 2019 ganti presiden. Yang penting, 2019 atau kapan saja, kita bisa makan dengan menu berganti-ganti. Baju juga begitu, tidak gantung kepuh (itu-itu saja). Apa lagi bagi kaum ibu, ganti baju, tas dan sepatu adalah merupakan kebutuhan primer. Tapi awas, kaum lelaki jangan coba-coba ganti istri!
Manusia adalah makhluk pembosan, tidak nyaman dengan sesuatu yang monoton dan itu-itu saja. Maunya selalu berganti-ganti, biar ada fariasi. Karenanya dalam perspektif Islam, Allah mengizinkan lelaki beriistri sampai empat. Dalam surat Annisa ayat 3 disebutkan, “Kawinilah perempuan satu sampai empat, jika mampu. Jika tidak, cukup satu saja.”
Ingat, di situ ada narasi alternatif “kalau mampu”. Jika tidak mampu memaksakan juga beristri empat, seorang suami bisa terjebak pada istikomah, yang dalam arti istri tiga kok kontrak rumah! Makanya orang Jawa punya nasehat, bagi kalangan yang mau poligami antara bonggol dan benggol harus berbanding lurus, sama-sama kuat.
Banyak istri disebut poligami, kalau ganti-ganti istri punya potensi ke poliklinik. Soalnya, istri yang diceraikan bisa ngamuk. Padahal makhluk wanita bila emosi bisa juga sadis lho, tahu-tahu pletakkkk…..pentungan mendarat ke jidat. Nah, bagaimana nggak masuk poliklinik jadinya?
Kaum wanita menolak suami ganti-ganti istri. Tapi dia sendiri adalah makhluk yang suka ganti-ganti baju, meski koleksi di rumah sudah satu almari. Setiap mau kondangan, tiba-tiba merasa sudah tak punya baju, dan harus ganti dengan yang baru. Kadang kaum wanita memang seperti penyiar TV, pantang dengan baju yang sama dalam penampilannya.
Kaum hawa juga terkenal suka gonta-ganti tas dan sepatu. Jika dia berkemampuan, pasti dipilihnya yang bermerk internasional. Maka rakyat Banten pernah kaget, di kala rakyat makan susah Gubernur Ratu Atut tega beli tas Hermes seharga Rp 500 juta. Padahal pagi rakyat kecil pada umumnya, sampai terkena Herpes tak mungkin resanya memiliki tas yang harganya selangit.
Kebanyakan kaum lelaki, tak begitu peduli akan sepatu, baju dan apalagi tas. Punya sepatu sepasang dua pasang sudah merasa cukup. Begitu pula baju, banyak yang gantung kepuh, tapi yang bersangkutan nyaman saja. Yang tak nyaman justru pihak lain, manakala baju itu sudah bau ledis (anyir) tak juga ganti.
Lelaki lebih memperhatikan menu berganti-ganti salam urusan perut. Coba saja istri di rumah tiap hari masak sayur lodeh, pasti suami protes. Jika tidak protes, justru itu yang berbahaya, karena siapa tahu suami malah jajan di luar. Jika jajan dalam arti sebetulnya masih lumayan, paling celaka bila jajan dalam tanda petik.
Kaum lelaki memang tak hanya peduli soal perut, banyak juga yang urusan –maaf– di bawah perut. Ini takkan ada habisnya, dan kembali ke persoalan di atas, yang jadi pembahasan pertama. Adanya lelaki beristri monogami banyak juga karena faktor “tidak mampu” itu tadi. “Ngapain beristri banyak, wong satu saja takkan habis dimakan rayap.”
Maka kita boleh salut pada Sultan HB X raja Yogyakarta itu. Meski ada kemampuan, tradisi Kraton dan agama mengizinkan, dia tetap beristri satu. Ngersa Dalem pernah merasakan, betapa pilunya punya ayah yang beristri banyak. Dia tak bisa bermanja-manja pada ayah kandungnya. Maka jangan sampai anak-anak seperti dirinya, dia rela beristri satu saya, Gusti Kanjeng Ratu Hemas. (Cantrik Mataram)




