Garam Jadi Semakin Asin

Akibat panjangnya musim hujan sekarang ini, produksi petani garam menjadi di bawah target.

KECUALI suku Dayak Punan di Kalteng, manusia tak bisa hidup tanpa garam (NaCI). Meski porsinya hanya beberapa gram sehari, orang selalu membutuhkannya. Maka ketika minggu-minggu ini Indonesia terjadi krisis garam, para pelaku industri pada kelabakan. Kata pemerintah, krisis garam terjadi akibat sejumlah sentra petambak garam belum panen.

Mengapa manusia selalu ada ketergantungan pada garam? Sebab garam natrium atau sodium penting dalam mengontrol proses biologis dan membuat kita sehat. Tentu saja jika dikonsumsi dalam jumlah sedang. Garam adalah mineral yang menjaga cairan tubuh seimbang dan memainkan peran penting dalam berbagai fungsi tubuh kita.

Kekurangan garam dalam tubuh kita, menjadikan badan selalu lemas, mirip orang berpuasa kehabisan waktu sahur. Tapi ini tak berlaku bagi warga suku Dayak Punan. Karena berpantang garam dari turun temurun, tubuhnya justru menjadi demikian ringan, bisa loncat ke sana kemari mirip tokoh jagoan dalam cerita silat Kho Ping Hoo.

Jika melihat orang kena penyakit gondok, yakni ada pembengkakan di batang leher (struma), kata kakek nenek akibat janji tidak ditunaikan. Tapi kata dokter itu akibat kekurangan garam iodium. Apa itu garam iodium? Bagi kalangan anak SR tahun 1960-an, istilah itu sangat susah dicerna dalam otaknya. Dalam pikiran mereka, garam yodium ya garam yang dioplos dengan obat merah yodium tentur  untuk mengobati luka baru.

Senyawa garam bisa memperlambat pembusukan, sehingga ikan pun diawetkan menjadi gesek, gereh, teri, atau biasa disebut ikan asin. Telur jika ingin awet dimakan berminggu-minggu, juga dijadikan ikan asin atau endog kamal kata orang Jawa atau endog asin kata orang Sunda.

Dalam kultur Jawa, memasak kekurangan garam (cemplang), menjadikan sang pemasak dianggap tak becus masak, sehingga bisa mempengaruhi kondite di mata calon mertua. Suami juga bisa marah ketika istri masak kurang garam. Sebaliknya gadis yang masak terlalu asin, katanya itu pertanda sudah ingin segera menikah.

Dalam khasanah Bahasa Indonesia, banyak juga peribahasa yang berkaitan dengan garam. Menggarami air laut misalnya, itu berarti menyumbang pada orang kaya. Banyak makan asam garam kehidupan, berarti orang yang banyak pengalaman hidup. Asam di gunung, garam di laut, ketemu di belanga; itu berhubungan dengan perjodohan. Tapi seseorang menghabiskan dua bungkus Gudang Garam dalam sehari, pasti itu pecandu rokok.

Dalam peribahasa Jawa juga banyak. Nguyahi segara, artinya menyumbang pada orang kaya. Wis cukup mangan uyah, artinya: kenyang menjalani kehidupan. Ibarate mangan karo uyah artinya: makan secara sederhana. Tapi jika orang sedang laku prihatin sehingga makan menghindari garam, itu disebut: mutih.

Tapi minggu-minggu ini, meski harga garam dapur menjadi demikian mahal, belum ada yang sengaja menghindari garam, kecuali penderita darah tinggi tentunya. Kenapa garam langka di pasaran? Sebagaimana disebutkan di awal tulisan, karena petani tambak belum panen. Kenapa belum panen, Wakil Gubernur Jawa Timur Gus Ipul beralasan, ini imbas dari tidak menentunya musim yang terjadi sejak 2016 silam. Akibat panjangnya musim penghujan,  petani garam di Jawa Timur hanya mampu menghasilkan 123.873 ton garam dari target produksi sebesar 1,2 juta ton.  Garam pun menjadi semakin asin! (Cantrik Metaram)

Advertisement