PRESIDEN Jokowi pernah minta kepada Mentri BUMN Erick Tohir, agar BUMN yang sakit-sakitan ditutup saja. Maskapai Garuda Indonesia yang keuangannya berdarah-darah, punya utang sampai Rp 140 triliun, hampir menjadi target. Bahkan sudah ada opsi akan dibentuknya maskapai plat merah baru menggantikannya. Tapi Allah berkehendak lain. Berkat perjuangan Erick Tohir yang disuport DPR, lewat PKPU utang Garuda bisa ditunda pembayarannya. Alhamdulillah Garuda kita yang nyaris brondol, bakal bersemi kembali bulu-bulu sayapnya dan Insya Allah bisa terbang tinggi lagi.
BUMN itu kepanjangan akronim Badan Usaha Milik Negara. Tapi karena sering jadi pangkalan mantan pejabat yang bukan ahlinya, dan terjadi salah urus, justru kemudian diplesetkan menjadi: Badan Usaha Milik Nenek. Nah, karena dianggap milik nenek sendiri, para pengelola boleh ambil semaunya (korupsi), namanya juga milik nenek. Di mana pun, kebanyakan nenek tak kuasa berbuat apa-apa ketika cucunya berbuat nakal.
Itulah yang terjadi di BUMN. PT Garuda Indonesia misalnya, setelah Orde Baru tumbang Meneg BUMN Tanri Abeng menemukan kenyataan bahwa maskapai Garuda bagaikan pohon yang banyak ditumbuhi benalu. Ada sejumlah bisnis yang tidak masuk akal, yang dipaksakan oleh keluarga Cendana dari famili sampai anak-anak dan cucu Pak Harto. Harian Kompas edisi 10 September 1998 membelejeti hal ini.
Gudang Cargo di Bandara Sukarno-Hatta yang dikelola PT Angkasa Bina Wisesa, tiap bulan menangguk untung Rp 6 miliar, tapi yang disetor ke Garuda hanya Rp 300 juta. Itupun biaya listrik, telepon dan pemakaian gedung dibebankan pada Garuda. Dari total pendapatan pada tahun 1995 sebesar Rp 28,5 miliar, yang disetor kepada Garuda cuma Rp 3,1 miliar. Sementara pendapatan tahun 1996 hingga Mei 1998, dari Rp 105 miliar yang diperoleh Garuda kebagian Rp 39,6 miliar.
Pada era Dirut Garuda Wiweko Supono putra Cendana ada yang menawarkan asuransi pesawat, tapi ditolak mentah-mentah. Malah dianya disuruh belajar dulu tentang asuransi, baru untuk bisnis. Tapi di era Wage Mulyono tak bisa menolak ketika Bambang Trihatmojo masuk lagi menawarkan produk yang sama (1994). Paling lucu Ary Sigit cucu Pak Harto unclug-unclug ke Garuda manawarkan bisnis ground handling (pelayanan penumpang dan bagasi). Sempat ditolak karena harganya terlalu mahal, tapi setelah Dirut ditelepon pejabat tinggi negara, akhirnya iya deh…… diterima juga!
Lalu…..masih banyak lagi pihak-pihak yang jadi benalunya Garuda. Yang jelas Mentri BUMN Tanri Abang mencatat, di BUMN Garuda Indonesi sebenarnya dapat dihemat sekitar 18,27 juta dollar AS per tahun atau sekitar Rp 27,1 miliar apabila 8 kerja sama operasi (KSO) berbau KKN di lingkungan Garuda dihilangkan. Menurut dia, 8 KSO itu justru menimbulkan ekonomi biaya tinggi dalam pengadaan barang dan jasa di lingkungan Garuda selama rezim Orde Baru.
Sayangnya, Kabinet Persatuan Nasional-nya BJ Habibie tidak lama, sehingga Tanri Abeng belum sempat membenahi Garuda seluruhnya termasuk BUMN-BUMN yang lain. Terlepas dari benalu, eh sejumlah Dirut macam Emirsyah Satar (2005-2014) dan I Gusti Ngurah Askhara (2018-2019) terlibat korupsi, sehingga keduanya masuk penjara. Emirsyah Satar yang terima suap Roll Roice kena 8 tahun penjara, sedangkan Ngurah Askhara cuma kena hukum percobaan 20 bulan gara-gara menyelundupkan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton.
Masuk era pemerintahan Jokowi periode kedua, baru terungkap bahwa PT Garuda termasuk BUMN yang sakit-sakitan. Dari 41 BUMN yang ada, Garuda salah satu dari 20 BUMN yang layak rawat inap tapi di luar tanggungjawab BPJS-Kes. Utangnya mencapai Rp 20 triliun. Dan ketika Corona mulai menerpa Indonesia per Maret 2020, utang Garuda membengkak jadi Rp 70 triliun. Ibarat burung, Garuda kita bulu sayapnya mbrodhol (rontok), sehingga tak mampu terbang tinggi.
Bayangkan, penumpang Garuda turun drastis dari 15-19 juta pertahun, tinggal 4-5 juta pertahun. Terpaksa terjadi PHK besar-besaran, 2.400 karyawan termasuk pramugari dan pilot di –PHK. Yang hanya dirumahkan terbangnya bergiliran. Artinya, jika bulan ini tak menerbangkan pesawat ya tak dapat gaji. Entah pilot suami pedangdut Euis Dahlia terkena kebijakan jenis apa, pastinya Euis Dahlia jadi kerepotan bayar cicilan rumahnya yang sebulan mencapai Rp 250 juta.
Tapi meski dari PHK karyawan itu bisa menghemat anggaran Rp 143 miliar perbulan, belum berarti Garuda bisa kembali sehat. Tetap saja Garuda sebagai manuk brondol karena utangnya justru membengkak jadi Rp 140 triliun. Usut punya usut, mental oknum-oknum Garuda belum terbebas dari sifat “mbathi”. Kata Mentri Erick Tohir, onum Garuda ini demen banget buka jalur ke luar negeri. Ke negara A harus pakai pesawat jenis ini, ke negara B harus jenis itu. Akibatnya Garuda harus banyak nyewa pesawat ke asing dan harganya ora umum, artinya lebih mahal dari yang seharusnya.
Selama ini asal ada BUMN pileren (sakit-sakitan), kemudian disembuhkan lewat PMN (Penyertaan Modal Negara). Tapi Presiden Jokowi kali ini capek benar-benar capek. Sudah gelontorkan PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) untuk mengatasi Corona, kok harus pula keluarkan PMN. Akhirnya, BUMN mati ya wis BEN (biar saja).
Tapi untungnya Menteri Erick Tohir dan DPR tidaklah ahistoris. Garuda Indonesia Airways (GIA) yang berdirinya di masa perjuangan dimodali masyarakat Aceh, jangan sampai mati merana gara-gara salah urus. Dirut Garuda yang sekarang, Irfan Setiaputra, juga setia pada komitmen, yakni menolak bangkrut! Apapun masalahnya, Garuda harus tetap hidup dan eksis sebagai flight carier (penerbangan nasional)!
Maka melalui sidang PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat beberapa hari lalu, pihak kreditur dan lessor siap untuk tidak ngejar-ngejar dulu utang Garuda yang Rp 140 triliun itu. Garuda pun bernapas lega. Dengan dana PMN Rp 7,5 triliun yang akan disuntikkan pemerintah setelah dikabulkan PKPU-nya, Insya Allah PT Garuda Indonesia bisa kembali berjaya, bulu-bulu sayapnya tidak brondol lagi. (Cantrik Metaram).





