
N250 Gatot Kaca yang pernah menjadi icon kejayaan industri dirgantara Indonesia hingga bisa disejajarkan dengan segelintir negara maju yang mampu membuat pesawat udara, kini menghuni dan menjadi koleksi museum TNI-AU di Yogyakarta.
Sang penciptanya, maestro teknologi pesawat udara, Prof. Dr. Ing, B.J. Habibie, presiden ke-3 RI, sudah lebih dulu dipanggil oleh Sang Khaliq dan bersemayam dalam keabadian di TMP Kalibata, Jakarta, sejak 11 September 2019 pada usia 83 tahun.
N250 yang merupakan pesawat penumpang regional komuter turbo prop bermesin ganda rancangan asli Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN) atau sekarang PT Dirgantara Indonesia (DI) terbang perdana pada 10 Agustus 1995.
Dengan keunggulan dibanding pesawat-pesawat sekelas di eranya, a.l. dioperasikan secara fly by wire, N-250 yang berkapasitas 50 sampai 70 penumpang dan kecepatan 610 Km/jam diharapkan mampu merebut pasar dari pesaingnya seperti ATR-42 (Perancis), Q-400 De Havilland (Kanada), MA60 China dan Fokker-50 ( Belanda) yang sudah stop produksi.
Namun dewi fortuna tidak berpihak, karena krisis moneter pada 1998 memaksa pemangkasan APBN sehingga upaya RI mewujudkan impiannya buyar, apalagi IMF mempersyaratkan, penghentian pendanaan N250 adalah salah satu klausul yang harus disepakat pemerintah RI.
Sukses terbang perdana N250 Gatot Kaca, disusul pesawat kedua, N250 Krincing Wesi setahun kemudian (19 Des. 1996), lalu pesawat salah satunya diterbangkan estafet melintasi sejumlah negara dari Bandung untuk mengikuti Air Show bergengsi di Le Bourget, Paris pada 1998.
N250 merupakan pesawat pertama yang disain dan produksinya dibuat Indonesia walau sebelumnya PT DI yang didirikan BJ Habibie pada 1976 juga berkerjasama dengan CASA, Spanyol memproduksi pesawat CN-212, juga dengan kesertaan Airbus, mengembangkan CN-295, CN-235, heli Super Puma (dengan Aerospatiale Perancis) dan lainnya.
Sepeninggal BJ Habibie, kiprah PT DI juga terus berlanjut, dan saat ini mengembangkan pesawat turboprov sayap tinggi bermesin ganda N-219 berpenumpang 19 orang yang bisa dioperasikan pada landas pacu pendek, wilayah perbukitan dan nantinya juga jenis amfibi.
Lompatan besar Indonesia, yang secara alami adalah negara agraris, menjadi produsen pesawat tentu tidak lepas dari sosok BJ Habibie yang bisa dikatakan “terlalu maju di zamannya”.
Lahir di Pare-pare, 25 Juni 1936,BJ Habibie meneruskan pendidikan di Jerman dan menyabet gelar doktor di Sekolah Tinggi Aachen Jurusan Konstruksi Pesawat.
Sebelum ditarik oleh Presiden Soeharto untuk mengembangkan industri pesawat nasional pada 1974, ia malang melintang di Jerman sampai menjabat Vice Presiden industri pesawat terkemuka Jerman, Messerschmitt-Bolkow-Blohm.
Mr. Crack
| BJ Habibie dijuluki Mr. Crack, dengan temuannya tentang teori Propagasi Patahan (Crack Propagation) untuk mendeteksi rambatan kerusakan konstruksi badan pesawat hingga ke inti atomnya. |
Sebelum titik crack bisa dideteksi secara dini, keretakan konstruksi diantisipasi dengan meningkatkan faktor keselamatan (SF), misalnya dengan penguatan bahan konstruksi, namun setelah titik crack bisa dihitung, derajat SF pun dapat disesuaikan.
Mengenai pengembangan hitech di Indonesia yang menuai pro-kontra dan polemik, BJ Habibie teguh dengan keyakinannya bahwa jika ingin maju, teknologi harus dikuasai dari “ujung”-nya atau dari yang paling mutakhir.
“Begin at the End and End at the Beginning, “ seru BJ Habibie. Yang ia maksudkan, misalnya dengan menguasai seluk-beluk pesawat udara yang sarat dengan unsur hitech, teknologi bidang-bidang lainnya bakal mudah dikuasai.
N250 Gatot Kaca saat ini menghuni dan menjadi koleksi Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala Yogyakarta, sementara sang penciptanya, BJ Habibie bersemayam di TMP Kalibata, Jakarta.
Bangsa Indonesia menanti kelahiran Habibie-Habibie lain, juga dengan karya-karya besar lain, tidak hanya di bidang hitech , mungkin juga yang menjadi pengayom, perekat erat dan pemersatu bangsa.




