Geliat Reformasi di Negeri para Mullah

TUNTUTAN terhadap reformasi dan keterbukaan mewarnai pilpres Iran yang digelar, Jumat (19/5), ditandai pertarungan antara kubu reformis dan kubu konservatif atau garis keras.

Baik dari hasil jajak pendapat mau pun geliat massa di tengah ajang kampanye menjelang pilpres, hasrat rakyat akan keterbukaan dan reformasi kelihatannya semakin meluas sehingga sulit dibendung.

Tiga capres mewakili kubu reformis (petahana Hassan Rouhani, Deputi Utama Presiden Eshaq Jahangiri dan mantan Menteri Kebudayaan Mostafa Hashemitaba) dan tiga lagi (mantan Jaksa Agung Ebrahim Raisi, Walikota Teheran Mohammad  Baqer Qalibaf dan mantan Kepala Kepolisian Mostafa Mir-Salim dari kubu konservatif.

Qalibaf, mantan Komandan Garda Revolusi mengundurkan diri demi memperkuat kubu garis keras, Ebrahim Raisi, sedangkan Rouhani didukung  mantan Presiden Iran (1997 – 2005) Mohammad Khatami. Aksi serupa dilakukan kubu reformis yang menarik pencalonan Jahangiri demi melicinkan jalan bagi Rouhani

Khatami menyerukan dukungan terhadap tokoh reformis, Rouhani, dengan alasan,  menurut dia, demi memastikan terwujudnya keadilan sosial dan ekonomi.

Pada pilpres 2013, Khatami memainkan peran penting untuk meloloskan  pencalonan Rouhani dengan meminta kandidat lain dari kubu reformis, Mohammad Reza Arief untuk mundur.

Dalam kampanyenya, Rouhani mengingatkan rakyat terkait pertanggungan jawab Raisi atas penjatuhan hukuman mati terhadap ratusan tahanan politik saat ia menjabat jaksa agung.

Rouhani juga menyebutkan keberhasilan pemerintah untuk membawa Iran keluar dari blokade komunitas internasional pasca Revolusi Iran yang ditandai tumbangnya rezim monarki Shah Iran Reza Pahlevi pada 1979.  Buktinya, dengan ditandatanganinya kesepakatan program nuklir dengan pihak Barat pada Juli 2015, sebagian aset Iran di negara Barat yang dibekukan sejak 1979 dapat dicairkan.

Tidak politisasi agama

Rouhani juga mengingatkan lawannya untuk tiak mempolitisasi agama untuk memenangkan pilpres walau selaku hakim pengadilan agama, Raisi dapat  mengeluarkan surat perintah penahanan pada siapa saja.

Sebaliknya, kubu Raisi mengiritik, kesepakatan dengan pihak Barat yang dilakukan di era kepemimpinan Rouhani pada 2015 belum mampu mengatrol pertumbuhan ekonomi, penciptaann lapangan kerja  serta mendorong investasi.

Kadidat dari kedua kubu, Rouhani dan Raisi diperkirakan akan bertarung ketat, dan hasilnya nanti akan menentukan arah langkah Iran ke depan. Menjadi lebih terbuka dalam hubungan dengan negara-negara Barat terutama AS, atau tetap tertutup karena masih dibayang-bayangi euforia Revolusi 1979.

Kubu reformis dan konservatif sendiri terbentuk dari sempalan tokoh-tokoh yang semula berasal dari para loyalis Revolusi Iran yang kemudian saling bertarung di panggung politik di negeri itu.

Iran praktis terisolasi dari negara-negara Barat pasca revolusi yang dilancarkan Imam Khomaeni. Era tersebut ditandai pembersihan terhadap orang-orang yang dianggap musuh revolusi, baik dari kubu liberal pro-Barat mau pun kelompok kiri yang cenderung pro-komunis.

Sejauh ini berdasarkan hasil jajak pendapat International Perspectives for Public Opinion (IPPO) yang dirilis 10 Mei lalu, Rouhani masih memimpin dengan perolehan 55 persen suara.

Vox Populi Vox Dei. Hasil Pilpres nanti akan menentukan apa yang sebenarnya dikehendaki rakyat Iran.    (AP/AFP/Reuters/NS)

 

 

 

 

Advertisement