LOMBOK – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan gempa di Lombok in terjadi disebabkan oleh pelepasan energi setelah terakumulasi selama ratusan tahun.
“Kulit kerak permukaan bumi terbagi dalam beberapa blok lempeng. Kalau dia saling bertumbuk satu sama lain akibat dibawa sama cairan di bawahnya itu, nah itu saling nabrak. Ada yang naik, ada yang turun,” kata Agustan, peneliti geodesi di BPPT.
“Di daerah Lombok, Flores, Bali ada semacam tektonik lempeng kecil, bagian blok permukaan yang kecil. Ini saling tubrukan. Sumbernya berasal dari patahan Flores,” Agustan menambahkan.
Sebelumya, NASA mengatakan jika permukaan tanah di Lombok naik 25 centimeter akibat gempa yang menewaskan 400 orang lebih.
Atas hal tersebut, Irwan Meilano, dosen geodesi Institut Teknologi Bandung mengatakan data satelit yang digunakan NASA dipandang mewakili dengan baik apa yang terjadi pada Gempa Lombok karena menjelaskan secara visual perubahan bentuk yang terjadi akibat gempa.
“Terdapat perubahan bentuk, terdapat perubahan dimensi dari bagian utara Pulau Lombok. Jadi yang dimaksud dengan deformasi adalah perubahan bentuk yang berlangsung secara tiba-tiba akibat gempa,” katanya.
“Ada dua bagian lapisan yang berlainan, lempeng tektonik yang berbeda, yang berada di utara Pulau Lombok dan di Pulau Lombok. Tiba-tiba bagian yang atas dari kedua lapisan tersebut, tiba-tiba naik dengan sangat cepat. Tiba-tiba ada sebuah lapisan tanah yang bergeser tiba-tiba naik ke atas dan juga bergerak horizontal.
Nah pergerakan yang tiba-tiba, yang vertikal dan horizontal ini, kemudian menghasilkan guncangan yang keras,” Irwan menerangkan, sebagaimana dikutip BBC Indonesia.





