
GAZA – Upaya gencatan senjata di Gaza masih menemui jalan buntu akibat perbedaan pendapat terkait isi kesepakatan, seperti yang dilaporkan oleh Al-Araby Al-Jadeed, situs berita yang berbasis di London, Inggris.
Sumber-sumber yang dikutip oleh situs tersebut menyebutkan bahwa Hamas menginginkan adanya penyebutan eksplisit mengenai “penghentian perang” dalam kesepakatan tersebut.
Namun, rezim Israel menolaknya dan bersikeras menggunakan istilah “penghentian operasi militer.” Ketidaksepakatan ini menjadi salah satu hambatan utama dalam tercapainya kesepakatan gencatan senjata.
Selain itu, Al-Araby Al-Jadeed melaporkan bahwa Hamas mengklaim telah menewaskan 60 personel militer Israel, termasuk seorang komandan Brigade ke-401, selama 77 hari terakhir operasi militer di Gaza utara.
Di sisi lain, serangan terus berlanjut di Gaza, menyebabkan semakin banyak korban jiwa di kalangan warga Palestina.
Laporan menyebutkan bahwa dalam serangan terbaru, rumah di Kota Jabalia, Gaza utara, dibom, menewaskan sedikitnya 10 warga Palestina, termasuk tujuh anak. Serangan lainnya terjadi di sebuah sekolah di Gaza tengah, yang mengakibatkan satu korban jiwa.
Pada Kamis (19/12/2024), Human Rights Watch merilis laporan yang menuduh Israel melakukan tindakan genosida terhadap warga Gaza dengan membatasi akses mereka terhadap pasokan air yang layak.




