Gerhana Supermoon Dan Supermi

Penduduk Jakarta berbondong-bondong salat gerhana bulan di Monas.

RABU malam 31 Januari 2018 kemarin telah terjadi gerhana bulan total, yang di jaman now ini disebutnya sebagai supermoon. Ini peristiwa tatasurya biasa, lantaran bisa diprediksi manusia melalui ilmu perbintangan (astronomi). Tak semua wilayah RI bisa menikmatinya, dan di mana-mana digelar salat gerhana baik di mesjid-mesjid maupun tempat terbuka. Bagi yang tak bisa menikmati supermoon karena hambatan geografi, silakan menikmati di TV sambil makan supermi.

Kapan terjadinya gerhana bulan atau matahari bisa diramalkan. Ketika terjadi gerhana bulan 7 Agustus 2017, para ahli astronomi telah meramalkan bahwa gerhana bulan serupa akan terjadi juga di tahun 2018 pada 31 Januari dan  28 Juli. Semuanya betul, dan ilmu perbintanganlah yang meramalkan.

Tapi awas, ilmu astronomi yang dikuasai Thomas Djamaludin (Kepala LAPAN) dan Bambang Hidayat (mantan Kepala Observatorium Bosscha Bandung) jangan disamakan dengan ilmu perbintangan yang dikuasai Wong Kam Fu atau juga Tengku Syahriar Mahyudin Msc di majalah Selecta tahun 1970-an. Mereka ini bicara ilmu perbintangan hanya seputar: Leo, Sagitarius, Gemini dan Cancer; yang dikaitkan dengan peruntungan nasib seseorang dalam seminggu.

Menurut ilmu fisika, gerhana bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar Matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi. Itu menunjukkan bahwa bumi memang bulat adanya, mungkin sebulat tahu Rp 500,- yang digoreng dadakan.

Maka sebagaimana kata Kepala LAPAN Thomas Djamaludin, gerhana bulan semalam merupakan pukulan telak bagi penganut keyakinan  bahwa bumi itu datar (Flat Earth Society). Mereka hanya bisa berteori tapi tak bisa dibuktikan secara ilmiah. Jangan jangan, saat sekolah dulu mereka memang tak pernah baca kisah “Telur Columbus”. Walhasil di mata mereka bumi itu laksana meja.

Beda penganut bumi datar, beda pula orang Jawa mbah buyut kita. Kata nenek moyang mereka, bumi dan seisinya diciptakan oleh para dewa di kahyangan. Usai menciptakan bumi, mereka bersama-sama minum tirta marta sekaligus makan siang. Tiba-tiba reksasa Rahu nimbrung ikut minum. Matahari dan bulan melihatnya, sehingga lapor pada Hyang Wisnu.

Maka raksasa Rahu dipanahnya dengan senjata Cakra. Jlep! Tapi lantaran sudah minum air tirta marta, meski kepala telah terlepas dari tubuh masih bisa terbang dan mengejar matahari dan bulan yang demen cari muka. Matahari dan bulan pun ditelannya, sehingga bumi menjadi gelap gulita.

Di situlah orang Jawa masa lalu meyakini bahwa gerhana terjadi karena matahari atau bulan diuntal malang (ditelan) oleh raksasa Rahu. Untuk mengusir dan memuntahkan bulan atau matahari tersebut, penduduk beramai-ramai pukul lesung (alat penumbuk padi) atau pentongan. Ketika bumi menjadi terang, diyakini bahwa raksasa Rahu telah memuntahkannnya.

Mitos semacam itu kini telah hilang, apalagi piranti yang namanya lesung dan alu (antan) sudah tak ada lagi barangnya. Penduduk desa masa kini melihat gerhana bulan atau matahari justru nongkrongi di TV sambil makan supermi, atau mencermati langit. Bagi yang muslim berbondong-bondong ke mesjid atau lapangan untuk salat gerhana. (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

 

Advertisement