PEMIMPIN tertinggi sekaligus Presiden Kim Jong Un dikitari para jendralnya tampak tersenyum lebar, bertepuk tangan menyaksikan tampilan layar komputer mengenai keberhasilan uji peluncuran rudal jarak menengah Musudan.
Suasana di ruang komando di salah satu lokasi di Korea Utara yang ditayangkan TV pemerintah setempat dan direly oleh TV Korea Selatan, Minggu (12/2) menyebutkan, rudal meluncur sejauh 500 Km kemudian jatuh di Laut Jepang.
Presiden Kim juga mengumumkan, negaranya dalam waktu dekat ini akan melakukan uji coba rudal antarbenua (Inter Continental Balistic Misile – ICBM), yang menurut perkiraan pihak Barat, berdaya jelajah antara 5.000 sampai 10.000 Km atau mampu menjangkau pantai timur AS.
Setiap kali Korut melakukan uji rudal, yang paling was-was tentu saja selain Korea Selatan, tetangga berbatasan langsung dan sesama bangsa Korea, sekaligus juga musuh bebuyutan sejak Perang Korea yang pecah pada pada Juni 1950 sampai Juli 1953, Jepang dan juga Amerika Serikat sebagai sekutu keduanya.
Menteri Pertahanan AS James Mattis, sepekan sebelum hari “H” peluncuran rudal Musudan telah mengingatkan, AS bersama sekutu-sekutunya akan segera membalas telak setiap serangan nuklir yang dilancarkan Korut.
Pemerintah Korsel sendiri menganggap uji coba rudal kali ini dilakukan sebagai unjuk gigi terhadap Presiden AS Donald Trump yang dalam kampanye Pemilu lalu berjanji akan bersikap keras terhadap musuh-musuh AS termasuk Korut.
Dalam pernyataannya, Kementerian Pertahanan Korsel menyebutkan, yang dilakukan Korut hanya untuk mengingatkan Trump dan menarik perhatian dunia karena nyatanya rudal jatuh ke laut setelah mencapai jarak 500 Km.
Uji coba rudal Musudan adalah pertama kalinya pada tahun ini setelah delapan kali uji coba serupa yang dilakukan sepanjang 2016 dilaporkan media Korsel dan Barat menemui kegagalan.
Untuk Rayakan HUT
Pihak Korut sendiri berkilah, uji coba ruda Musudan dilakukan guna memperingati hari ulang tahun pemimpin besar Korut Kim Jong Il, ayah Presiden Kim Jong Un yang jatuh pada 16 Februari.
Menurut catatan, Korut yang kondisi ekonominya pas-pasan akibat sanksi embargo dan pengucilan oleh AS dan negara Barat lainnya cukup getol melakukan pengembangan rudal yang teknologinya berasal dari Uni Soviet.
Selain mengoperasikan rudal-rudal darat ke darat Scud ex-Uni Soviet seperti yang digunakan Irak menyasar Israel pada Perang Teluk I pada 1990 lalu, Korut juga mengembangkan rudal-rudal balistik Musudan, Taepodon 1 dan Taepodon 2 yang teknologinya berasal dari negeri Beruang Merah itu.
Sebaliknya, selain mengecam uji coba rudal Korut, AS mempersenjatai sekutu-sekutunya di Asia, terutama Korsel dan Jepang yang berhadapan langsung dengan Korut, dengan menggelar satuan rudal anti rudal Patriot yang juga pernah dianggap berhasil membentengi Israel dari serangan rudal Scud Irak pada era Perang Teluk I (Januari 1990).
AS dilaporkan memayungi dirinya dari serangan rudal balisitik antarbenua dengan sistem peringatan dini berbasis satelit yang dapat memantau pergerakan rudal sejak diluncurkan dari pangkalannya.
Sistem area pertahanan (anti rudal-red) di altitud tinggi (terminal high altitude area defense – THAAD) berupa rudal tanpa hulu ledak (warhead) yang berfungsi memburu, kemudian menabrak rudal lawan juga sedang dikembangkan oleh AS.
Semoga gertak-menggertak antara pihak-pihak yang berkepentingan di semenanjung Korea sekedar intermezzo di era globalisasi dan kemitraan saat ini.
Bukankan apa pun persoalannya bisa diselesaikan dengan damai, jika semua pihak menginginkannya?




