Ghouta, Neraka bagi Warga Sipil

Goutha, wilayah dekat ibukota Suriah, Damaskus, jadi neraka setelah dibombardir dari darat dan udara oleh pasukan rezim al-Assad didukung pesawat-pesawat tempur Rusia.

TAK berlebihan rasanya bila Sekjen PBB Antonio Guterres menjuluki, wilayah Ghouta timur yang dicabik-cabik perang saudara sebagai neraka bagi warga sipil dan meminta para pihak yang bertikai di Suriah menggelar gencatan senjata.

Gencatan senjata 30 hari yang diserukan oleh DK PBB diharapkan membuka peluang bagi organisasi-organisasi kemanusiaan untuk mengevakuasi warga kota yang terjebak dalam petempuran dan meyelamatkan mereka yang luka-luka.

Alih-alih mematuhi gencatan senjata, pasukan rezim pemerintah Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad, Minggu (25/2) melancarkan serangan darat dari tiga arah ke Ghouta Timur didukung artileri berat dan pesawat-pesawat tempur Rusia.

Badan Pemantau HAM di Suriah (SORH) melaporkan, paling tidak 522 warga sipil tewas akibat bombardemen pesawat-pesawat tempur Rusia ke wilayah tersebut dengan dalih serangan itu dialamatkan terhadap pemberontak dan teroris.

Dalam serangan udara Senin (26/2) lalu, sekeluarga terdiri dari seluruhnya beranggotakan sembilan orang tewas mengenaskan, dan jenasah mereka dengan susah payah baru bisa dikeluarkan oleh petugas sosial dari reruntuhan bangunan.

Serangan terbesar terhadap wilayah Ghouta timur dilancarkan dengan rudal darat ke darat memuat racun sarin pada 21 Agustus 2013 dengan perkiraan korban tewas antara 280 orang sampai lebih 1.700 orang, dan ke kota Khan Seikhoun,Provinsi di provinsi Idlib (4/4/17) Goutha timur yang menewaskan sekitar 70 orang.

Pasca serangan ke Seikhoun, AS melucurkan 59 rudal jelajah tomahawk dan berhsil menghancurkan sejumlah pesawat tempur Suriah di pangkalan udara Shairat yang diduga dijadikan pangkalan penyerangan ke wilayah itu dengan senjata kimia (7/7/17).

Tim investigasi PBB pada tahun 2014 dan Lembaga HAM juga meyakini dan telah memastikan, Suriah menggunakan racun sarin untuk menyerang warganya sendiri.

Berjalan enam tahun
Perang saudara di Suriah antara Kelompok Perlawanan Suriah (FSA) melawan rezim petahana pimpinan Bashar al-Assad yang sudah berlangsung enam tahun dan menelan ratusan ribu nyawa dan menciptakan jutaan pengungsi.

Ghouta timur merupakan basis utama gabungan kelompok pemberontak yang menentang rezim al-Assad seperti Jaish al-Islam, Failaq al-Rahman, Tahrir al-Sham, Front al-Nusra dan al-Qaeda.

Sementara itu di Afrin, wilayah utara Suriah, satuan Pelindung Rakyat Kurdi (YPG) didukung milisi pro al-Assad sedang bertahan melawan serbuan Operasi Ranting Zaitun militer Turki yang didukung tank-tank dan pesawat tempurnya.

Turki dan Suriah diambang perang terbuka, dan Presiden Turki Tayyip Erdogan sudah mengingatkan pemerintah Suriah untuk tidak mencoba-coba menganggu gerakan pasukannya di Afrin.

Konflik antara Israel dan Iran juga terjadi di Suriah beberapa pekan lalu akibat tuduhan Israel, Iran mengoperasikan pesawat nir-awak (drone) dari dalam wilayah Suriah untuk memata-matai wilayahnya.

Israel berhasil menembak jatuh drone tersebut setelah menyusup beberapa kilometer ke dalam wilayahnya, sebaliknya sebuah pesawat tempur F-16 Israel dijatuhkan oleh rudal pertahanan Suriah. Perang terbuka antara Israel dan Iran juga bisa terjadi.

AS yang selama ini mendukung front perlawanan terhadap rezim al-Assad mengecewakan milisi YPG di Afrin, mitra utamanya dalam memerangi Negara Islam di Irak an Suriah (NIIS) karena membiarkanya dari serbuan Turki.

Penyebabnya, mungkin AS agak kikuk untuk berhadapan dengan Turki yang sesama anggota Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel meminta agar Rusia memnggunakan pengaruhnya agar rezim al Assad menghentikan seragannya ke Ghouta Timur. Macron juga mendesak Turki agar menghentikan penyerbuan ke markas milisi Kurdi di Afrin dan Manbij, Suriah.

Pasca takluknya NIIS, musuh bersama AS, Rusia, Iran, Turki, rezim al-Assad dan milisi YPG, perdamaian bukannya terwujud, konflik malah menjadi-jadi, bahkan bisa menyulut perang terbuka antara Iran – Israel dan Turki – Suriah.
(AP/AFP/Reuters/NS)

Advertisement