JAKARTA – Kecamuk perang antar golongan yang memporak porandakan Yaman, Ahmed Abdullah Ali, bocah 6 tahun warga di daerah terpencil al-Tohaita, Yaman menjadi lebih sering tidur dengan perut lapar bersama 13 saudara kandungnya.
Dampaknya, tubuh Ahmed menjadi kekurangngan gizi dengan fisik kurus, tampak rapuh dan terlihat jauh lebih muda dari usianya.
“Saya mendapatkan 500 rial Yaman per hari, dan aku punya 14 anak, jadi saya tidak bisa memberikan mereka dengan roti, teh dan susu kambing untuk minum,” kata ayah anak itu, Abdullah Ali, seperti dilansir Al Jazeer, jumat (14/10/16).
Ahmed merupakan satu dari ribuan penduduk Tohaita yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari beternak. Namun sejak negrinya dilanda perang, hasil peternakannya tak mampu menopang kebutuhan hidup sehari-hari.
Tohaita yang terletak di Provinsi Hodeidah Barat itu sebagaian besar warganya tidak berpendidikan dan buta huruf.
“Saya pernah menerima bantuan dari kelompok- kelompok pendukung seperti makanan dan kasur, bantuan tersebut sebagian besar telah mengering di tengah perang yang sedang berlangsung Yaman. Tapi selama dua tahun terakhir, kami tidak menerima bantuan apapun. Aku tidak mengingnkan apa pun selain makanan supaya anak-anak kami tidak mati kelaparan,” kata Ali.
Menurut Program Pangan Dunia, sekitar 14 juta orang – lebih dari setengah penduduk Yaman – telah mengonsumsi makanan yang tidak aman, sementara ribuan lainnya tewas, dan lebih dari 1,5 juta telah terlantar akibat konflik.
Dalam kasus di Tohaita, kebanyakan orang tidak mampu membeli bahkan dasar-dasar, seperti sayuran, buah dan susu.




